Pages - Menu

Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 13, 2012

Legenda Dibalik Air Terjun di Indonesia

Negara ini memang kaya akan cerita legenda, hampir di setiap daerah seantero Indonesia ini mempunyai legendanya masing-masing, bahkan untuk air terjun sekalipun cerita legenda itu begitu melekat kepada pesona alam yang yang satu ini.
Entah anda ingin mempercayainya atau tidak kebenaran dari suatu cerita legenda, akan tetapi yang jelas beberapa air terjun di bawah ini sarat akan cerita sebuah legenda yang diyakini atau dianggap oleh masyrakat yang tinggal di sekitaran air terjun pernah terjadi di masa lalu


Air Terjun Nglirip: Putri yang Patah Hati
Dibalik gemerincik air yang jatuh silih berganti di Air terjun Nglirip Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, terdapat sebuah cerita legenda Nglirip. Alkisah legenda itu bermuara dari pertemuan salah satu Adipati Tuban di zaman sebelum kerajaan Majapahit dengan seoarang wanita cantik.
Saat itu adipati kepincut dengan kecantikan gadis desa anak dario tokoh masyrakat setempat. Sakin terpesonanya gadis perawan itu akhirnya dipinang dan dijadikan istri untuk yang kesekian kalinya. Meskipun menjadi istri adipati hingga memiliki anak perawan, tapi entah kenapa ia tak mau diboyong ke pendapa kadipaten.





Eh, ternyata belakangan diketahui bahwa gadis yang telah dinikahinya itu memiliki kekasih lain yang bukan dari kalangan ningrat alias rakyat jelata. Namun naas, hubungan asmaranya itu ditentang orangtuanya, baik dari ibunya maupun ayahnya sang adipati. Sang gadis akhirnya minggat dari rumah apalagi setelah mengetahui kekasihnya yang konon bernama Joko Lelono itu tewas dibunuh prajurit kadipaten atas perintah ayahnya.
Sang putri pun memutuskan untuk bertapa di salah satu goa di balik air terjun di tengah hutan, air terjun Nglirip. Putri yang patah hati ini menutup diri menolak ditemui siapapun. Putri yang bertapa itu kemudian disebut putri Nglirip dan masyarakat meyakini, putri Nglirip akan marah jika rumahnya di sekitar goa air terjun Nglirip dipakai pacaran.


Air Terjun Carang Kuning
Agak sediki berbeda dengan Air Terjun Nglirip, walaupun Air Terjun Carang Kuning ini juga diambil dari legenda seorang putri, namun kisah putrinya tidak setragis air terjun yang berada di daerah Tuban itu. Nama air terjun yang terletak di Lumajang ini diambil dari nama seorang putri pada zaman kerajaan Majapahit yang sering mandi di bawah air terjun tersebut.



Nama putri itu dikenal dengan Putri Carang Kuning. Entah karena mempunyai kulit kuning langsat seperti kebanyakan putri-putri raja atau kedekatan dengan simbol tempat itu sehingga dijuluki carang kuning pasalnnya di dekat lokasi air terjun banyak ditumbuhi oleh pohon bambu kuning. Kata “carang” berarti ranting-ranting bambu, kata “kuning” yang berarti simbol warna dari bambu.


Air Terjun Songgolangit: Berawal dari kisah tragis sepasang Pasutri
Alkisah, hidup seorang jejaka yang berasal dari desa Tunahan yang menjalin cinta dengan seorang gadis cantik asal Dukuh Sumanding Desa Blucu Kecamatan Kembang. Jalinan cinta mereka begitu kuat hingga berlanjut ke jenjang perkawinan. Di sini diceritakan bahwa antara desa Tunahan dan desa Blucu terbentang sungai . Pada zaman dahulu seorang laki-laki melamar seorang perempuan harus membawa perabotan dapur seperti wajan, piring, gelas, dan lain lain . Serta membawa hewan piaraan kerbau, sapi, atau kambing.





Pada suatu fajar si isteri bersiap menyiapkan makanan pagi untuk si suami tercinta. Dalam penyediaan sarapan tersebut si isteri kurang hati-hati sehingga menimbulkan suara-suara alat dapur yang saling bersentuhan. Sang mertua (ibu si isteri) menegur anaknya “Ojo glondhangan, mengko mundhak bojomu tangi” atau dalam bahasa Indonesia “Jangan gaduh, nanti suamimu terbangun”. Rupanya si suami salah mendengar “Kerjo kok glondhangan, rumangsamu barange bojomu” atau dalam bahasa Indonesia “Kerja kok gaduh, memangnya barang bawaan suamimu”.
Pada saat itu juga si suami itu merasa tersinggung dengan perkataan sang mertua itu, kemudian pada tengah malam kedua pengantin tersebut berniat pergi dari rumah untuk pindah ke tempat asal suami dengan mengendarai pedati/gerobak yang ditarik oleh sapi. Nah di malam hari buta, pedati yang mereka naiki ternyata salah jalan hingga tanpa mereka sadari pedatinya masuk jurang (sekarang air terjun Songgolangit yang berada di Jepara) dan pasangan pasutri itu pun hilang dalam kegelapan jurang yang dalam.


Air Terjun Coban Rondo
Air terjun yang Kecamatan Pujon di Pegunungan Panderman Kota Batu, Jawa Timur punya cerita yang rada sedikit menyedihkan perihal asal usul namanya. Alkisah, konon dulu ada sepasang pengantin baru yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Nah, saat usia pernikahan mereka mencapai 36 hari, Dewi Anjarwati mengajak suaminya itu untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Mendengar niat tersebut, kedua orang tua Dewi Anjarwati melarangnya karena usia pernikahan mereka yang masih baru Tetapi keduanya bersikeras untuk berangkat dengan segala resiko apapun .



Dalam perjalanan mereka dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak jelas asal-usulnya. Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahianpun tidak bisa dihindarkan, kepada punokawan yang menyertaimereka Raden Baron Kusuma meminta agar Dewi Anjarwati disembunyikan disuatu tempat yang ada Cobannya (air terjun). Dalam perkelahian itu Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono sama-sama tewas. Karena kematian suaminya Dewi Anjarwati menjadi janda (dalam bahasa Jawa disebut Rondo)
Sejak saat itu air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya kembali dari perkelahian disebut dengan Coban Rondo. Konon katanya batu besar yang ada dibawah air terjun Coban Rondo adalah tempat duduk sang putri.

Minggu, Oktober 10, 2010

Advice on Building Company Culture

People spend a lot of time talking about "company culture" in Silicon Valley. What does it take to create the right kind of culture? How can you maintain that culture? Do you need a mission statement? Should you have a mascot? At first blush it sounds like a bunch of mushy-gushy nonsense. But every great company I've had the good fortune to work with has maintained a strong, independent, identifiable culture. And that culture has served to unify and energize the company and its employees.

One thing that is certain, no two company cultures are the same. Even successive companies built by the same people, like children born of the same parents, come out a little bit different. Some companies are playful and fun. Their employees jam in bands together, wear bright colored company clothing, model for corporate brochures. Other companies are intense and driven. Their employees appreciate complete transparency, celebrate each increase in conversion, work after dinner on Friday nights. No one culture is better than another. Whatever motivates, energizes and inspires your employees to build a big company over the long run, is just the culture you are looking for.

So what does it take to build a strong culture? That's a tough question. And one that is rarely tackled systematically. Tony Hsieh takes on the topic in his new book "Delivering Happiness," in which he gives a great account of the many things that he did to make Zappos' corporate culture flourish. And in a recent talk given by Scott Weiss, former CEO of IronPort, he enumerated the many things that he did maintain a strong and unified culture at IronPort. Scott is a widely respected leader and CEO, and one need look no further than his list to understand why -- Scott suggests the following 20 rules of thumb while building a company for 0 to 250 employees:

Interview every new employee (until 50 then interview everyone that will manage others)
Spend 30 minutes per week on Mondays talking to new employees as part of their first day. Stop by their desk within a month to see how things are going.
Have lunch with every employee (After 50 you can take 2 out at a time) and get to know them not only by name but some details about them.
Hold at least one all hands meeting (at least two execs should speak, not just you) every quarter
Go over the real board slides after every board meeting – let everyone know what was discussed.
At every meeting with all employees, you must set aside 30 minutes for questions and press for no fewer than 5.
An email (or internal blog) to all after every customer trip, conference attended or major news from a competitor e.g. notes from the road
Personally roll out the values, strategy, and history of the company during a comprehensive employee orientation within the first 90 days.
Attend every company function, event and party as though you are the host
Review every significant communication to ALL and ask your team to review yours before it goes out.
Give a performance review to your direct reports at least twice per year, spending no less than 5 hours preparing each person’s review and at least an hour giving it. Get 360 feedback in person.
Set annual and quarterly goals (between 2-5 is about right although I prefer three) as a company as well as each individual employee.
Promote mainly from within and always based solely on performance.
Personally roll out the performance review process to everyone – you are the lead speaker, not human resources.
Emphasize "speaking up" as a value every time you get the chance (e.g. interviews, evaluations, all hands, employee orientation and lunches)
Follow the rules e.g. fly coach, park in the back lot, have a modest office
Constantly demonstrate that no task or chore is beneath you. E.g. Fill the coke machine, clean up after a group lunch, pack a box, and carry the heavy crap.
When a team has to work a weekend, you need to be there too - even if it's just to stop by and buy them a meal to show your appreciation.
When something really goes wrong, you need to take all the blame.
When something really goes right, you need to give all the credit away.
I couldn't agree more with Scott's suggestions. Company culture starts from the top and can only thrive if it is promoted and supported at every cross-road. But, it is also a ton of work. When I suggest to Scott that it was a huge time commitment to deliver on all of these recommendations, Scott responded, "it was very time intensive but totally worth it... I firmly believe that if you want to have a culture where employees contribute broadly to solving problems outside of their area, it starts with the CEO being approachable/authentic and someone who pays attention to the people ecosystem. Employees then need to be current on what the companies problems are and then constantly encouraged to help solve them."

Great advice all around. Creating the right company culture is hard but invaluable. My thanks to Scott for sharing his thoughts on the topic.

Selasa, September 28, 2010

Seniman Gelar "Melebur Dosa Menganyam Cinta"

Puluhan seniman sekitar Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar performa "Melebur Dosa Menganyam Cinta" sebagai ungkapan halal bihalal mereka dalam wujud ekspresi seni.

Mereka yang antara lain mengenakan berbagai properti seni antara lain tarian kontemporer "Jingkrak Sondang", tarian soreng dengan musik "truntung", pakaian adat Jawa, tabuhan "jedhor" pada Selasa malam itu berjalan kaki dari pertigaan Pasar Borobudur melewati Jalan Pramudya Wardani, Jalan Balaputra Dewa, dan berakhir di halaman Gandok Seni Budiarjo sekitar 500 meter timur Candi Borobudur.

Halaman pendopo Gandok Seni Budiarjo terlihat dihias dengan properti ratusan kelongsong ketupat yang membentuk hati dalam ukuran raksasa sebagai simbol cinta kasih, sedangkan puluhan kelongsong ketupat lainnya diletakkan di sejumlah tali yang dibentangkan di atas halaman itu.

Sejumlah properti lampion aneka warga diletakkan di beberapa tempat di halaman itu sehingga suasana terkesan artistik.

Prosesi dipimpin oleh Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Chusaeni, sedangkan seniman Merapi, Agus "Merapi" Suyitno, melakukan pentas ritual tolak balak.

Berbagai pementasan kesenian kontemporer, musik, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi kultum (Kuliah Tujuh Menit), dan undian bingkisan, serta pesta kuliner itu berlangsung hingga tengah malam dengan ditonton ratusan warga setempat, penggemar seni, dan budayawan, serta para pemudik terutama mereka yang berasal dari sekitar Candi Borobudur.

Terlihat pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Magelang, Dian Setya Dharma.

Mereka yang menggelar pementasan itu antara lain grup Topeng Saujana pimpinan Sujono, teater Gadung Mlati pimpinan Ismanto, musik oleh grup band Paku Wojo pimpinan Dedy Paw, penyair Dorothe Rosa Herliany, dan puisi sosialteatrikal oleh Gepeng Nugroho.

Budayawan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mengatakan, halal bihalal sebagai tradisi budaya masyarakat Indonesia saat Lebaran.

"Hanya ada di Indonesia, tidak ada di Malaysia, Iran, atau Timur Tengah," katanya.

Ia menyebut tradisi halal bihalal sebagai kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia yang hingga saat ini masih dijalankan masyarakat karena menjadi perekat hubungan antarmanusia saat Lebaran.

Ia menyebut agama tidak terlepas dari peranan kebudayaan setempat sehingga wujud pelaksanaan kehidupan beragama menjadi lebih manusiawi.

"Nilai-nilai kebudayaan membuat pengamalan hidup beragama lebih manusiawi," katanya.

Umar mengatakan, halal bihalal khas seniman Borobudur itu menjadi salah satu atraksi wisata malam pada musim Lebaran.

"Kami mengemas menjadi aset wisata, mereka yang hadir menyaksikan ini juga kalangan pemudik Lebaran," katanya.

Selain itu, katanya, kegiatan itu juga menjadi ekspresi seniman sekitar Borobudur saat merayakan Lebaran dan halal bihalal di antara mereka.

Minggu, Agustus 22, 2010

Kesenian…milik siapa

Sebagaimana telah kita pahami bahwa kesenian di semua daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Ini tidak saja berlaku untuk kesenian rakyat namun juga kesenian kontemporer. Kabupaten Purworejo yang memiliki berbagai macam kesenian, sudah saatnya memiliki konsep jelas kemana arah kesenian akan dibawa. Banyak pihak sudah “memikirkan” perkembangan kesenian ini. Namun, banyak pihak juga yang berhenti hingga sampai titik “memikirkan”. Tanpa memperjelas solusi yang harus dilaksanakan. Apalagi arah / titik dimana akan “ditempatkan” kesenian di masa yang akan datang. Tulisan ini semoga menjadi bahan perenungan kita bersama, semua pihak entah birokrat maupun pelaku seni, perorangan / pemerhati seni atau bahkan pihak swasta sekalipun yang memiliki kepedulian akan seni budaya. Pokoknya siapapun.
Patut kita sadari bersama, bahwa keanekaragaman seni yang ada di Kabupaten Purworejo membutuhkan perhatian. Banyak pihak sudah yang penulis temui baik langsung maupun tidak (misal melalui media internet) yang memberikan masukan kepada semua pihak berkenaan kegiatan seni budaya di kabupaten tercinta. Mulai dari pertanyaan tentang jenis-jenis kesenian yang sampai saat ini masih hidup di kabupaten tercinta, hingga mempertanyakan kesenian yang akan mati dan atau mati suri, sampai ada yang hanya sekedar menanyakan bentuk pementasan dari suatu jenis kesenian. Dari titik itulah penulis berkesimpulan bahwa tidak sedikit orang Purworejo baik yang didalam maupun diluar daerah yang memberikan perhatian pada bidang kesenian. Bahkan diantaranya memiliki rasa memiliki yang teramat mendalam mengenai kesenian daerah. Ini dimaklumi, karena apapun bentuk keseniannya jika itu dari daerah asal akan menjadi tali pengikat yang sangat kuat bagi warga purworejo yang berada di luar daerah. Bagaimana rasanya seseorang yang tiap hari bergulat mencari nafkah jauh dari tanah kelahirannya …. menghadapi persaingan, bekerja keras dan segala macamnya.. tiba-tiba saja mendapatkan informasi tentang kesenian di daerahnya atau bahkan berkesempatan untuk menonton kesenian daerahnya tampil di kota dimana mereka tinggal. Bagaikan oase di tengah gurun yang kering. Itulah mengapa mereka banyak memberikan masukan tentang kesenian, disamping para pelaku seni di dalam daerah.
Kesenian bisa menjadi “wajah” suatu daerah. Banyak sudah pementasan yang dilaksanakan di luar daerah membuktikan itu. “Kedigdayaan” kesenian menjadi wakil daerah setidaknya memunculkan bentuk apresiasi dari para penikmat seni. Para penikmat seni bisa berasal dari putra daerah yang tinggal di daerah lain, maupun warga setempat yang memang mencari sekedar hiburan. Apa yang dipersembahkan oleh duta seni menjadi “wakil” dan sekaligus “wajah” kabupaten tercinta.
Disamping itu kerja keras untuk memberikan ruang ekspresi seni bagi para penggiat kesenian dan sekaligus sebagai wahana ekspresi bagi masyarakat luas menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Kehidupan berkesenian yang selama ini ada seakan menemui jalan buntu ketika beberapa pementasan lokal tidak diadakan. Akhirnya semua kembali ke masyarakat (lagi). Padahal dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Di masa yang akan datang mestinya “ruang” itu dapat kembali dihidupkan. Sehingga diharapkan dapat komplit sinergi yang terbentuk antara masyarakat dan pemerintah. Sekali lagi …(mestinya) kesenian bukan hanya milik masyarakat saja…kita semua memiliki kewajiban untuk mendukung..membina bahkan mengembangkan.
Jangan sampai ketika orang / pihak lain mengklaim kesenian kita… baru terasa ada yang terbakar dibawah dagu kita. Dan kita hanya bisa berguman : “O iya ya… kita selama ini telah lengah mengurusi kesenian.”
Mari kita selamatkan kesenian Purworejo, selamatkan seni budaya kita. Saat ini…hal inilah yang harus kita laksanakan.
Salam budaya…

KESENIAN INCLING DESA SEMAGUNG KECAMATAN BAGELEN

Riwayat singkat Kesenian Incling ini sebenarnya bersumber dari sebuah cerita yang terdapat di Jawa Timur dan khususnya Karesidenan Madiun yang berpusat di Ponorogo.

Adapun cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :

1. Di Ponorogo ada seorang bernama Suromenggolo, ia seorang yang sakti mandraguna. Dalam hidupnya ia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Sarinten, ia adalah wanita yang sangat cantik sekali. Karena kecantikannya itu ia dilamar oleh seorang dari Trenggalek bernama Singalodra. Karena Sarinten tidak mau, maka Sarinten dibunuh oleh Singajaya atas perintah Singalodra.

2. Karenanya marahlah Suromenggolo. Sehubungan dengan itu ia memasang umbul-umbul sebagai tanda menantang perang terhadap Singalodra. Umbul-umbul tersebut terlihat pula oleh Singalodra dan kawan-kawannya. Terjadilah peperangan.

3. Dalam peperangan ini mereka masing-masing saling mengerahkan prajurit. Keduanya sangat kuat. Singalodra mengeluarkan kekuatannya/kesaktiannya dengan gigi siungnya, sedang Suromenggolo dengan kekuatan/kesaktiannya pada cemeti/pecut.

4. Abdi-abdi Suromenggolo dalam keadaan yang demikian ini tidak dapat berbuat lebih bayak. Mereka hanya bimbang/bingung. Padahal seharusnya ia memihak pada bendara atau tuannya. Kadang-kadang ia menggambarkan peperangan ini bagaikan pertarungan ayam jantan (adu jago). Sebagai gambaran bahwa seekor ayam akan bertarung dengan gigihnya bahkan sampai matipun ia rela.

Dengan gambaran abdi-abdi yang demikian itu dapat ditangkap oleh kedua prajurit. Sehingga mengakibatkan peperangan semakin seru. Mereka masing-masing saling menggunakan kekuatan lahir : silat, pedang dan lain sebagainya. Kekuatan batin dengan berbagai macam ilmu kebatinan.

Demikianlah cerita singkat tentang Kesenian Incling Semagung yang diilhami dari cerita aslinya dalam cerita Singalodra melawan Suromenggolo.

Kesenian Cing Poo Ling

Kesenian Cing Poo Ling menggambarkan prajurit yang sedang latihan perang. Tema ini tetap bertahan sampai sekarang. Kesenian Cing Poo Ling merupakan kesenian tradisional sejenis atau reogan mengalami perkembangan sebagai tari perang dan bertemakan tentang kepahlawanan. Biasanya yang diambil dalam kesenian jathilan, reog maupun sejenisnya adalah cerita panji, namun kesenian Cing Poo Ling di Desa Kesawen, Kec. Pituruh memiliki ciri khas yaitu tentang keprajuritan sebagai pengawal.

Kesenian ini diperkirakan muncul pada abad XVII. Bermula dari kegiatan pisowanan ke kraton yang dilakukan oleh Ki Demang. Dimana pada saat menunggu pisowanan, para pengawal Ki Demang melakukan permain dengan menggunakan gerakan-gerakan keprajuritan.

Asal mula nama Cing Poo Ling terdapat beberapa versi, dua diantaranya adalah

Pada perkembangannya, kesenian Cing Poo Ling peraganya terdiri dari :

1. Kelompok pertama terdiri dari : 4 (empat) orang penari yang berperan : 1 orang sebagai Ki Demang, 2 orang sebagai pendamping (gandhek), 1 orang penyongsong.
2. Kelompok kedua terdiri dari : 4 (empat) orang penabuh yang terdiri dari 3 (tiga) orang berperan sebagai penabuh bendhe dan 1 (satu) orang sebagai juru tiup slompret.
3. Kelompok ketiga terdiri dari : 9 (sembilan) orang yang terdiri dari : 1 (satu) orang pemayung, 2 (dua) orang pemencak, 2 (dua) orang pendamping, 2 (dua) orang penipung, 2 (dua) orang pengecrek.
Penyelenggaraan di ruang terbuka, misalnya lapangan, halaman depan rumah. Walaupun pada awalnya hanya di lingkungan kadipaten tempat pisowanan berlangsung. Penonton dan penari dalam jarak yang dekat. Diurasi waktu pementasan sekitar 1 - 2 jam. Namun karena pertimbangan dan perkembangan, bisa dipadatkan menjadi ½ jam.



Keterangan :

pisowanan : adalah sebuah tradisi dalam kerajaan-kerajaan Jawa, di mana bawahan-bawahan raja / sultan datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan boleh dikatakan merupakan sebuah wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada raja. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, raja/sultan biasanya akan memberikan nasehat, teguran, ataupun perintah (titah) bagi masing-masing pemimpin daerah.

Kamis, Juli 22, 2010

KESENIAN CEKOK MONDHOL

Kesenian Cekok Mondhol merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang bernuansa keagamaan Islam. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di Desa Ngasinan Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Letak desa ini di daerah pegunungan, perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Wonosobo. Berawal dari ide sekelompok pemuda desa, komunitas pengajian untuk membentuk grup kesenian yang bisa dijadikan hiburan sekaligus tuntunan. Gerak, lagu dan syairnya serta musik iringannya hasil adaptasi dari kesenian yang ada di daerah Magelang yaitu Kubro Siswo yang kemudian dimodifikasi dengan hasil kreativitas para pemuda setempat, dipelopori oleh pemuda yang bernama Purwadi sekitar tahun 1970-an.

”Cekok” adalah istilah Jawa yang memiliki arti memasukkan jamu atau obat ke mulut yang berguna untuk kesehatan tubuh. ”Mondhol” juga istilah Jawa yang artinya bungkusan kain yang diikat. Relevan dengan syair lagu yang berisi nasehat keagamaan Islam, hidup bernegara dan bermasyarakat, maka harapannya nasehat yang diberikan tersebut disimpan untuk dijadikan tuntunan hidup, hal ini dapat dilihat dari simbol yang ada pada kostum tyaitu blangkon yang terdapat mondholannya.

Gerak tarinya energik dengan dominasi gerak kaki. Ditarikan oleh kaum laki-laki karena banyak hentakan kaki. Kostum yang dipakai adalah surjan lengkap dengan celana komprang, kain batik, lontong, kamus (sabuk), blangkon yang terdapat mondholannya. Alat musiknya terdiri dari kenthongan sejumlah 3 buah, ketipung sejumlah 4 buah yang terbentuk dalam 1 set, bedhug sejumlah 1 buah dan tamborin sejumlah 1 buah. Kesenian ini sering ditampilkan pada acara-acara yang diselenggarakan oleh desa setempat dan sekitarnya, juga orang yang punya hajatan dan pada festival kesenian rakyat.

KESENIAN SOYAR MAOLE

Kesenian kentrung rebana SOYAR MAOLE saat ini sebarannya meliputi beberapa dusun di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Untuk gambaran kesenian Soyar Maole di Dusun Jetis Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo sebagai berikut :

Menurut riwayat tidak tertulis dari para pendahulu/leluhur Desa Kaligono, kesenian Kentrung Rebana Soyar Maole sudah ada sejak tahun 1907, yang kemudian secara tradisi diteruskan oleh generasi ke generasi walaupun menjalani pasang surut, masih tetap bertahan sampai sekarang.

Konon menurut cerita, pada tahun 1907 terdapat seorang warga Desa Kaligono yang menunaikan ibadah haji. Sekembali dari ibadah haji, beliau mengajarkan agama Islam di Desa Kaligono. Metode dakwah yang dilakukannya dengan berbagai cara, salah satunya adalah lewat kesenian yang berkembang pada masa itu. Metode dakwah tersebut konon diperoleh dari Sunan Kalijaga.

Kesenian ini disajikan oleh 6 orang atau lebih pemusik dan 10 orang penyanyi (walaupun terdapat grup yang memiliki anggota hingga 20 orang). Alat musik terdiri dari kendang (1 buah), ketipung (1 buah), rebana (3 buah), rebana besar (1 buah), kecer (1 buah). Lagu yang dibawakan melantunkan syiar keislaman yang diambil dari Kitab Al Qur’an yang dikolaborasikan dengan bahasa jawa dan (saat ini) bahasa Indonesia.

Asal Kata SOYAR MAOLE

Menurut Bau Sastra Jawa Penerbit Kanisius

Soyar = ngandhakake kandhane wong lia (berdakwah)

Artinya : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah.

Maole dari kata mole = molor (bertambah panjang)

Maka SOYAR MAOLE diartikan : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah sampai waktu yang panjang atau terus menerus hingga agama berkembang luas.

Sumber lain mengatakan :

Soyar dari kata moyar = orang hidup yang berkeluyuran tanpa tujuan.

Maole dari kata maulud = lahir (kelahiran) disini dititik beratkan kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Maka SOYAR MAOLE berarti : orang hidup jangan hanya berkeluyuran, ingatlah apa yang dikatakan/diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Di Desa Kaligono khususnya di Dusun Jetis berkembang secara terorganisasi mulai tahun 1925. Yang kemudian diberi nama Organisasi Kesenian SOLAWATAN SOYAR MAOLE KARANG BINANGUN.

KESENIAN DOLALAK

Asal mula kesenian dolalak adalah akulturasi budaya barat (Belanda) dengan timur (Jawa). Pada jaman Hindia Belanda Purworejo terkenal sebagai daerah / tempat melatih serdadu / tentara. Sebagaimana tentara pada jamannya, mereka berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Purworejo saja dan dilatih oleh tentara/militer Belanda. Mereka hidup di tangsi / barak tentara.
Ketika mereka hidup di tangsi tersebut, maka untuk membuang kebosanan mereka menari dan menyanyi saat malam hari, ada pula yang melakukan pencak silat dan dansa. Gerakan dan lagu yang menarik kemudian menjadi inspirasi pengembangan kesenian yang sudah ada yaitu rebana (kemprang) dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desa Trirejo Kecamatan Loano yaitu :
1. Rejo Taruno
2. Duliyat
3. Ronodimejo
Ketiga orang tersebut bersama dengan warga masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk grup kesenian. Awalnya pertunjukan kesenian tersebut tidak diiringi instrumen, namun dengan lagu-lagu vokal yang dinyanyikan silih berganti oleh para penari atau secara koor. Perkembangan berikutnya setelah dikenal dan digemari oleh masyarakat, pertunjukan kesenian ini diberi instrumen/iringan dengan lagu-lagu tangsi yang terasa dominan dengan notasi do-la-la. Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak.
Busana yang dikenakan oleh penarinya terpengaruh nuansa pakaian serdadu Belanda. Ini dapat kita lihat dari baju lengan panjang dan celana tanggung dengan warna gelap/hitam, pangkat atau rumbai di bahu dan dada, topi pet dan kaca mata hitam. Sampur dipergunakan sebagai pelengkap busana, yang merupakan kebiasaaan orang Jawa dalam melakukan kegiatan menari yang selalu menggunakan sampur/selendang.
Adapun penyebaran tari Dolalak ini dimulai dari Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, kemudian “merembes” ke wilayah sekitarnya.
Dolalak biasanya disajikan semalam suntuk yaitu antara 4 hingga 6 jam dengan jumlah penari yang banyak (tari kelompok) dan pada puncak pertunjukan salah satu penarinya akan trance (mendem) yaitu adegan dimana penari akan melakukan gerak-gerak di luar kesadarannya. Sajian Dolalak membutuhkan tempat yang luas karena berupa tari kelompok. Sajian Dolalak menampilkan beberapa jenis tarian yang tiap jenis dibedakan dengan perbedaan syair lagu yang dinyanyikan dengan jumlah 20 sampai 60 lagu dan tiap pergantian lagu berhenti sesaat sehingga ada jeda tiap ragam geraknya.
Hingga saat ini pengembangan tarian tradisional Dolalak tidak saja di kelompok tari/grup. Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pembinaan dan pelatihan hingga sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Purworejo. Bahkan telah dipentaskan secara massal oleh siswa pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Alun-alun Purworejo dan seluruh Kecamatan se-Kabupaten Purworejo dengan jumlah peserta 2.100 anak di Alun-alun dan sekitar 16.000 siswa di semua kecamatan.