Pages - Menu

Tampilkan postingan dengan label cinta budaya sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta budaya sendiri. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 22, 2010

KESENIAN CEPETAN

Kesenian Cepetan merupakan jenis kesenian yang terlahir di Desa Kedungkamal Kecamatan Grabag Kab.Purworejo yang terinspirasi dari seorang pepuda yang bernama Tujan. Pada saat itu Kepala Desa Kedungkamal dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1959 berkeinginan untuk partisipasi dalam pawai budaya tingkat kecamatan. Keinginan tersebut disampaikan kepada seorang pemuda yang bernama Tujan.Mengapa hal itu disampaikan kepadanya dengan alasan karena pemuda Tujan pernah berpengalaman ikut menjadi anggota penari kuda kepang pada group kuda kepang desa lain. Maka pada saat itu pemuda Tujan mennyampaikan ide membentuk group kesenian yang diberi nama Cepetan.

Kesenian Cepetan terdiri dari 2 (dua) ekor penari Barongan , 2 ekor penari Banteng .2 orang penari jaran kepang, 2 penari topeng Pregiwati, 10 penari Topeng Raksasa Sekipu sehimgga jumlah penari keseluruhan ada 22 orang . Para penari tampil dengan tarian yang sangat sederhana berbaris sambil menari-nari sesuai dengan irama musik yang ada. Tarian Cepetan tampil menari sambil berjalan dan biasanya ditempatkan dibarisan paling depan karena para penari mengenakan topeng yang menakutkan sehingga bisa membuka jalan untuk peserta pawai yang lain kecuali juga bisa menarik perhatian penonton.

Penari Cepetan menggunakan kostum yang menggambarkan raksasa berbaju amboradul dan menggunakan topeng raksasa yang menakutkan. Topeng dari kata bata gepeng ditata untuk membangun langgar sebagai tempat untuk belajar mengaji para santri Jika santri telah menyelesaikan belajar Al Qur’an 30 jus mereka bisa disebut telah katam . Untuk itu mereka mengadakan acara ritual yang disebut Khataman . Ketika kataman mereka diarak pawai keliling desa dan paling depan biasanya kesenian Cepetan. Pelaksanaan acara khataman yang seperti ini bisa menghidupi dan melestarikan kesenian Cepetan. Barongan adalah gambaran seekor binatang yang sangat menakutkan dan dapat memangsa apa saja harapannya setelah santri khatam mereka menjadi orang berilmu yang sabar dan dapat menerima masukan apa saja dan dari mana saja. Sedangkan Bantheng dari kata tibane entheng harapannya setelah khatam para santri dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya menjadi ringan. Jaran kepang dari kata jaran yang maknanya mlajar sak paran-paran mempunyai makna agar setelah para santri khatam dapat mencari rejeki kemana-mana dengan mudah.

Iringannya terdiri dari beberapa instrumen :

1. Kendang
2. Kethuk kenong
3. Kecrek/ kecer
4. Kempul gong
Iringannyapun sangat sederhana sekali hanya dengan irama yang monoton untuk mengiringi para penari menampilkan tariannya. Dengan irama yang ada seorang penyanyi atau waranggono nembang ( menyanyikan) lagu-lagu yang populer saat ini.

Kata kata Cepetan berasal dari kata Cepet yang konon cerita merupakan makluk halus yang suka menggoda manusia dengan membawa manusia ke tempat yang jauh dalam waktu singkat. Terkadang menyimpan (menahan) manusia yang mereka bawa ( kecepet) ditempat yang sulit dilihat oleh mata kepala manusia biasa. Kepercayaan masyarakat agar orang yang kecepet segera dilepas oleh Si Cepet maka dicari muter-muter sambil membunyikan tetabuhan yang terdiri dari alat-alat dapur seperti tampah, irus, piring ,gelas dan sebagainya. Konon cerita Cepet mendengar tetabuhan tersebut tergiur dan menari-nari sehingga lengah dalam mengawasi tahanannya (orang yang kecepet) sehingga tahanannya bisa lepas dan bisa terlihat dengan mata kepala kita. Kata Cepet dengan harapan supaya cepat selesai dan tercapai apa yang menjadi cita-citanya.

Kesenian Cepetan dari berdiri sampai sekarang di Kabupaten Purworejo hanya satu group saja hal ini mungkin dikarenakan kesenian ini kurang menarik untuk ditampilkan sebagai kesenian panggung atau seni pertunjukan. Kesenian Cepetan sering dipakai untuk acara-acara yang sifatnya pawai atau arak-arakan saja. Bapak Tujan Kartowijoyo yang lahir th 1921 mencipta kesenian ini sampai sekarang (Th 2010) masih aktif membina kesenian ini dan telah membuat kader untuk melestarikan kesenian ini kepada anaknya.

JOLENAN (ADAT DESA SOMONGARI, KEC. KALIGESING)

Desa Somongari adalah suatu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, + 2 Km ke arah selatan dari Ibu Kota Kecamatan Kaligesing dan merupakan deretan pegunungan Menoreh yang terkenal dengan penghasilan buah durian, manggis dan kokosan/langsep.

Desa tersebut juga mengukir sejarah bangsa yakni seorang pencipta Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya“ Wage Rudolf Soepratman yang lahir di Dukuh Trembelang Desa Somongari.

Jolenan adalah sebuah nama upacara merti desa Keba Palawija yang menggunakan media jolen sebagai wadah atau tempat meletakkannya tumpeng dan ayam panggang. Jolen itu sendiri semacam keranjang dengan alas atau dasar empat persegi dan diberi tutup berbentuk piramida. Ledre dan Binggel diikat dan digantungkan pada ujung sebilah bambu, ditancapkan di sekeliling jolen yang menghiasi. Mengandung maksud merupakan perwujudan /gambaran bahwa daerah pegunungan Somongari kaya akan hasil bumi, baik dari hutannya maupun lain-lainnya.

Adapun yang melatar belakangi kepercayaan masyarakat Desa Somongari dengan selalu melaksanakan kegiatan merti desa tersebut, adalah sebuah legenda ;

Pada jaman dulu, kurang lebih sejaman dengan Majapahit, daerah yang sekarang kita sebut Desa Somongari merupakan daerah hutan belantara yang sama sekali tidak seorang manusiapun berani menempatinya. Kita ibaratkan dengan bahasa Jawa : Sato mara sato mati, janma mara janma mati, Dewa mara keplayu. Yang artinya, “segala binatang bila mendekat mati, semua manusia bila mendekat juga akan mati, pergi dari daerah itu”. Hal ini disebabkan karena tempat itu banyak didiami makluk halus yang konon amat membahayakan. Sehingga tak ada orang atau seekor binatangpun yang berani memasuki daerah tersebut.

Konon kabarnya pada jaman Majapahit, terjadi suatu peperangan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terkenal dengan nama perang Bubat. Pada saat itu, diantara prajurit kerajaan Majapahit ada yang berjalan melalui daerah yang sekarang dinamakan Desa somongari. Barisan prajurit tersebut dipimpin oleh Adipati Singanegara, Pangeran Lokajaya dan seorang lagi Pangeran Purwokusumo. Rombongan tersebut beristirahat di daerah itu sampai beberapa saat lamanya. Karena dirasa enak beristirahat di tempat tersebut, maka Adipati Singanagara dan para prajurit diperintahkan untuk terus bermukim di situ. Dan pula diperintahkan untuk menebang hutan-hutan sedikit demi sedikit untuk tempat tinggal.

Di depan diceriterakan bahwa tempat tersebut adalah suatu tempat dimana di daerah tersebut adalah daerah yang gawat, karena makluk-makluk halus yang berkuasa di situ sangat buas.

Ternyata diantara prajurit yang menebang kayu banyak yang mati atau hilang karena perbuatan makluk-makluk halus. Setelah diketahui oleh Adipati Singanegara beberapa kali tentang kejadian tersebut, maka bersemedilah Adipati Singanegara. Beliau bersemedi dalam bulan Sura sampai dengan bulan Sapar. Di dalam semedi itu, Adipati Singanegara diganggu oleh para makluk halus terutama oleh rajanya yang menurut keterangan amatlah sakti. Namun demikian raja makluk halus tersebut dapat ditaklukkan. Karena kekalahan yang diderita raja makluk halus itu, maka tepat pada bulan Sapar, hari Selasa Wage, menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Adipati Singanegara. Makhluk halus tak akan mengganggu lagi walaupun daerah itu akan dijadikan suatu kerajaan, malahan akan membantu segala usaha Adipati Singanegara, dengan perjanjian agar mereka diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu.

Konon khabarnya, setelah Adipati Singanegara dapat menkalukkan makluk halus, maka dimulailah penebangan hutan, pengaturan daerah sehingga Adipati Singanegara ditunjuk sebagai pimpinan daerah tersebut. Dan langsung menempati daerah itu beserta para prajurit dan keluarganya. Mulai saat itu, daerah tersebut merupakan daerah yang baik, tenteram, aman, panjang punjung loh jinawi, gemah ripah, tata raharja.

Kemudian Pangeran Lokajaya dikawinkan dengan puteri Adipati Singanegara (yang kemudian Pangeran Lokajaya terkenal dengan sebutan Mbah Somongari). Pangeran Purwokusumopun bertempat tinggal di situ. Beliau mempunyai dua orang anak, seorang putra dan seorang putri. Ke dua orang tersebut sampai tua tidak mau bersuami istri. Yang putra tak mau beristri kalau tidak sama dengan saudaranya perempuan. Demikian pula sebaliknya yang putri, akhirnya kedua orang tersebut meninggal tanpa sebab. Maka makam ke dua orang tersebut juga dijadikan satu tempat yang sampai sekarang terkenal dengan nama Makam Kedono-Kedini, yang akhirnya menjadi pepunden rakyat Desa Somongari.

Untuk memperingati kemenangan Adipati Sanganegara berperang melawan raja makluk halus, pada setiap hari Selasa Wage pada bulan Sapar tiap dua tahun sekali dirayakan upacara yang dikenal dengan kegiatan Merti Desa Kebo Palagumantung / Palawija dan lebih terkenal dengan sebutan Jolenan. Dan upacara selamatan desa tersebut ditempatkan di halaman Makam Kedono-Kedini dengan menampilkan atraksi kesenian Tayub dan kesenian lain asal desa Somongari.

Persyaratan dan kelengkapan yang biasa digunakan sebagai upacara tersebut antara lain:

1. Nasi tumpeng dengan ayam panggang
2. Makanan dari beras ketan/pulut, berupa
- Juadah
- Rengginan, dll
3. Makanan dari ketela pohon, berupa :
- Ledre
- Binggel, dll
4. Wayang golek
5. Pisang agung/raja
6. Tayub/Janggrung

Arti dari persyaratan tersebut antar lain, memaknai :

1. Nasi tumpeng dan ayam panggang
Mempunyai pengharapan segala cita-cita/maksud dari dasar sampai setinggi mungkin agar dapat terlaksana dengan baik

2. Makanan dari beras ketan/pulut :
Memberikan gambaran, agar rakyat bersatu padu seia sekata dalam segala langkah dan cita-cita.

3. Makanan dari ketela pohon ;
- Ledre : melambangkan bahwa daerahnya yang terdiri dari pegunungan namun hasilnya dapat mencukupi kebutuhan rakyatnya serta dapat di eksport ke lain daerah.
- Binggelan : dapat digambarkan dengan bermacam-macam tiruan hasil buah-buahan yang terdapat di daerah tersebut.
4. Wayang golek : melambangkan, agar kita mencari (goleki) arti/maksud sebenarnya.
5. Pisang agung raja adalah buah pisang yang dianggap nomor satu/agung dengan harapan dapat mengagungkan/mengangkat desa tersebut.
Adapun makanan dan perlengkapan selamatan yang tersebut pada nomor satu sampai dengan nomor lima ditempatkan di suatu tempat yang disebut “ Jolen ‘.

6. Tayub, melambangkan : di tata supaya guyub dan diujudkan dengan seorang penari yang menari-nari dengan dikerumuni banyak orang dengan maksud agar masyarakat selalu rukun mempunyai satu pandangan yaitu guyub.
Persyaratan yang berupa makanan, sebelum di-ikrarkan dan dimakan menurut tata cara, diadakan suatu upacara sesuai dengan adap daerah tersebut. Adapun yang setiap saat dijalankan adalah sebagai berikut ;

1. sebelum saat yang ditentukan (biasanya dimulai jam 09.00), maka jolen yang diikuti oleh masyarakat dan jenis-jenis kesenian yang ada, berdatangan ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
Menurut kebiasaan Jolen yang yang diadakan sesuai dengan banyaknya pedukuhan yang ada. Setiap pedukuhan biasanya mengeluarkan dua buah jolen, dan secara keseluruhan kurang lebih berjumlah 80-100 buah .

Setiap kesenian yang dikirimkan secara bergantian dengan grup kesenian yang lain harus mempersembahkan kebolehan grupnya di halaman makam Kedono-Kedini + 30 menit.

2. Setelah berkumpul di halam Pepundhen Kedono-Kedini, upacara dimulai dipimpin/diatur oleh kepala desa beserta perangkat dan panitia lainnya.
3. Kecuali pituah-pituah dari kepala desa, biasanya diadakan pula sambutan-sambutan dari pejabat kabupaten diantaranya Bupati.
4. Selanjutnya diadakan pawai (arak-arakan) melalui jalan-jalan di sekeliling tempat upacara atau kampung.
5. Pawai didahului oleh rombongan kepala desa beserta stafnya, kemudian jolen-jolen dan rombongan grup-grup kesenian secara berselang-seling.
6. Setelah pawai berkeliling melalui jalan-jalan yang sudah ditentukan, maka pawai kembali lagi ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
7. Begitu jolen diturunkan, maka diadakan perebutan makanan biasanya oleh semua pengunjung.
8. Sedangkan tumpeng dan ayam panggang, sebagian digunakan selamatan di situ dengan diawali keterangan maksud dan tujuan diadakannya selamatan oleh juru kunci yang diberi kuasa pepundhen tersebut. Lalu dibacakan doa secara agama Islam yang akhirnya dimakan bersama-sama. Sebagian tumpeng dan ayam panggang dibawa pulang oleh pembawa jolen masing-masing.
9. Upacara diteruskan dengan kesenian Tayub. Biasanya seorang penari yang disebut Tayub yang sedang menari lalu diimbangi menari oleh para kaum pria yang didahului oleh kepala desa.
10. Bersamaan tayub, maka semua kesenian yang mengikuti pawai diharapkan untuk bermain / dipentaskan di halaman terbuka.
Adapun kesenian yang terdapat di daerah tersebut yang biasa mengikuti upacara antara lain : kentrung, reog, kuda kepang, incling dan dolalak.

Upacara tersebut diakhiri pukul + 15.00

Untuk menghibur kelelahan siang harinya, biasanya pada malam harinya diadakan suatu pentas kesenian yang utama adalan tayuban

Jumat, September 10, 2010

Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders)

Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders), wallpapers images Kawasan hutan Pulau Nusa Gede
Kawasan hutan Pulau Nusa Gede dengan Luas kurang lebih 16 ha yang terletak di situ (danau), yaitu Situ Lengkong Panjalu berada di Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie) pada tanggal 21 February 1919 Nomor 6 (Staatsblad No.90). 2(dua) Tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 November 1921 diterbitkan dalam surat keputusan yang sama ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede (Island), selajutnya diberi nama "Pulau Kooders" dan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders".

Keadaan Vegetasi didalam Cagar Alam ini cukup beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya : Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus Variegata), Huru (Litsea sp), Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).

Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus Vampyrus), Biawak (Varanus Salvator) dan juga dapat ditemukan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur Indus), Raja Udang (Halcion chlors) dan Walik (Treron Griccipilla).

Keadaan topografi Situ Lengkong Panjalu yang merupakan danau dasar daripada danaunya sendiri kurang lebih berkisar 710 meter diatas permukaan laut, sedangkan pulau Nusa Gede yang merupakan kawasan Cagar Alam kurang lebih berkisar 733,14 meter dpl. Keadaan iklim di sekitar kawasan objek wisata ini, meliputi: suhu antara 19c - 32c, dengan kelembaban antara 70%-80%, kecepatan angin 4 s.d 5knots dan curah hujan rata-rata 3.145 mm per tahun.

Keadaan hidrologi khususnya keberadaan air Situ Lengkong Panjalu berasal dari air tanah yang ada pada hutan-hutan di sekitarnya, dan mata air yang terletak pada beberapa lokasi (kampung simpar:2 buah, bojongwaru:1 buah, ciater:1 buah dan kaum:1 buah).

Untuk mencapai ke lokasi ini, dapat ditempuh dari Kota Bandung dengan route :Bandung-Ciawi-Panjalu(Ciamis) yanng berjarak kurang lebih 95km, sedangkan dari Tasikmalaya dapat menggunakan route: Tasikmalaya-Rajapolah-Panumbangan-Panjalu(Ciamis) dengan jarak kurang lebih 40 km an dari Kota Ciamis berjarak sekitar 48 km.


Potensi objek dan daya tarik wisata yang banyak diminati pengunjung ke daerah ini yaitu, objek wisata Situ, Pulau Nusa Gede, Hutan Primer dan Makam Kramat. Tujuan utama pengunjung ke kawasan ini yang paling dominan yaitu untuk berziarah ke makam kramat. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis sebagai objek wisata ziarah. Kearifan lokal yang terdapat dikawasan tidak menjadikan kawasan Cagar Alam terganggu atas kehadiran pengunjung di kawasan ini.

Keberadaan kegiatan Perlindungan (konservasi) alam di Indonesia sangat berkaitan erat dengan nama Dr.S.H. Kooders (1863-1919) sebagai pendiri dan ketua pertama dari Nederlandsch Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming (perkumpulan perlindungan alam hindia belanda). Perkumpulan ini semacam perkumpulan pecinta alam yang mempelopori dan mengusulkan kawasan tertentu dan jenis tertentu, juga pembuat peraturan dan tulisan serta penelitian tentang perlindungan alam (jenis satwa dan tumbuhan).

Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda nenunjuk 55(limapuluh lima) lokasi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, suatu jumlah yang sangat mengagumkan dan sudah tentu perkembangan itu sangat memuaskan hati Dr.S.H. Kooders sebagai ketua dari Perlindungan Alam, diantara sekian banyak kawasan yang diusulkan sudah dinyatakan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument).

Dr.S.H. Kooders meninggal dunia pada tanggal 16 Nopember 1919 dan dimakamkan di Batavia-Jakarta. Dua tahun kemudian diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda tanggal 16 Nopember 1921 yang ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede di objek wisata Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis, selanjutnya diberi nama "Pulau Kooders" sedangkan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders". (sumber:Pandji YK)

Waduk Sermo Berkah Bagi Kulonprogo

Waduk Sermo yang terletak di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta, tampaknya semakin menarik perhatian. Terutama setelah diresmikan Presiden Soeharto, 20 November 1996. Apalagi kini debit air yang mengisi waduk sudah hampir sampai batas maksimum. Banyak orang datang, selain untuk rekreasi juga memancing ikan.

Sedangkan mereka yang berasal dari Perguruan Tinggi ingin belajar tentang bangunan fisik waduk. Sebuah jalan aspal melingkar memudahkan orang untuk menikmati pemandangan di sekitar waduk dari berbagai sudut pandang. Mereka yang senang olahraga dayung juga dapat berwisata sambil berlatih di waduk ini. Untuk mencapai waduk ini cukup mudah. Dari kota Wates hanya berjarak kurang lebih delapan kilometer. Tersedia kendaraan umum yang rutenya melalui Waduk Sermo.
images wallpapersWaduk Sermo Berkah Bagi Kulonprogo
Bila Anda berada di Candi Borobudur, untuk ke waduk itu dapat melalui jalan pintas yang aspalnya sudah hotmix melalui perbukitan Menoreh (selatan Candi Mendut ke Timur). Jarak dari Borobudur kurang lebih 60 kilometer. Sebelum menuju ke Waduk Sermo, di pebukitan Menoreh ada tempat wisata seperti puncak Suroloyo, Sendangsono dan makam pahlawan Nyi Ageng Serang. ''Banyak obyek wisata Kulonprogo yang layak dikunjungi di perbukitan Menoreh, sebelum ke Waduk Sermo,'' kata mantan Kahumas Kulonprogo, Drs Djuwardi di Waduk Sermo, beberapa waktu lalu kepada Republika.

Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi -- 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau.

Waduk Sermo diharapkan mengaliri sawah seluas 8.100 hektar yang berada di wilayah Kulonprogo bagian barat dan selatan. Selama ini, air irigasi diambilkan dari Kali Progo yang dinaikan melalui saluran Kalibawang dan Sapon (Brosot). Kedua irigasi ini dialirkan untuk lahan yang ada di wilayah timur laut dan tenggara. Namun tidak sepanjang tahun air Kali Progo dapat dialirkan melalui kedua saluran irigasi tersebut.

Bukan hanya irigasi saja. Waduk yang mempunyai luas genangan air seluas 157 hektar dan 25 juta meter kubik air dapat digunakan sebagai tempat memelihara ikan bagi warga setempat melalui keramba apung. Menurut Kades Hargowilis, Widianto, warganya akan mengelola keramba apung ini melalui koperasi. Jumlah keramba yang bisa dibuat di waduk ini 100 keramba. Satu karamba diperkirakan menghasilkan ikan air tawar 2,5 ton selama empat bulan. Pada awal dibangun, harga satu kilogramnya Rp 2.000, maka bisa menghasilkan uang Rp 5 juta. Sedang biaya untuk bibit dan pakan saat itu hanya membutuhkan dana Rp 330.000 per keramba. Jadi petani diuntungkan.Apalagi sekarang.

Pada peresmian lalu, Dinas Perikanan DIY telah menabur benih ikan sebanyak satu juta ekor. Diharapkan bibit ikan ini akan menjadi besar dan dapat diambil warga setempat secara gratis dengan pancing. Selain itu, waduk Sermo ini akan memberi manfaat bagi cabang olahraga dayung. Waduk yang mempunyai panjang dua kilometer cukup memadai untuk latihan olahraga dayung.

Banyaknya pengunjung waduk tampaknya tidak disia-siakan penduduk setempat. Mereka menjajakan buah-buahan Desa Hargowilis dan Hargorejo termasuk daerah penghasil buah durian, manggis dan buah-buahan lainnya. Menurut Dr Ir Fatchan Nurrochmat M.Agr, konsultan lingkungan Waduk Sermo, sangat banyak manfaat waduk tersebut. Tidak hanya warga yang berada di hilir waduk, tetapi juga warga yang di hulu. Waduk ini, jelas Nurrochmat, akan menjadi distributor air bagi wilayah Kulonprogo. Bahkan dapat mengurangi banjir yang sering terjadi di daerah Kulonprogo bagian selatan. Terutama daerah yang termasuk aliran sungai Serang.

Alhasil waduk ini tampaknya telah menjadi berkah baru bagi Kulonprogo. Setelah puas melihat Waduk Sermo, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Glagah Indah atau Congot. Di dua pantai ini sudah ada jalan beraspal yang terletak di pinggir pantai. Mereka yang menggunakan kendaraan sendiri dapat mencapai pantai dengan mudah. Pantai Glagah sudah dilengkapi dengan hotel. Di dekat pantai Glagah juga ada tempat wisata Girigondo yaitu tempat pemakaman raja-raja Pakualaman.

Pawon Dalam Budaya Jawa

Abstrak
Pawon atau dapur tradisional dalam budaya Jawa merupakan representasi dari tata kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, baik dari tata letaknya, fungsinya, dan isinya. Pawon atau dapur tradisional juga menegaskan adanya deskriminasi seks dalam pembagian kerja.

Pendahuluan
Dalam hidup orang Jawa dikenal adanya tiga ungkapan yang sangat penting yaitu sandang, pangan, dan papan. Artinya, dalam hidup manusia Jawa memerlukan tiga hal yang sangat penting yaitu: sandang (pakaian) untuk membalut tubuh supaya terlindung dari kedinginan, kepanasan, dan untuk estetika; pangan (makan) adalah makanan yang harus ada untuk dimakan sebagai syarat untuk bertahan hidup; dan papan (rumah atau omah) sebagai tempat berteduh atau tempat tinggal. Ketiga unsur budaya tersebut (sandang, pangan, dan papan) merupakan simbol penting dalam kehidupan orang Jawa.

Di dalam budaya Jawa terdapat anggapan bahwa antara rumah, tanah, dan penghuninya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Orang merasa bersatu dengan rumah dan tanah tempat tinggalnya, sekaligus merasa bersatu dengan desa tempat menetapnya. Perasaan bersatu yang demikian itu menyebabkan rasa aman dan tenteram bagi orang yang menghuni rumah tersebut. Dengan adanya perasaan demikian itu, maka rumah merupakan bagian penting bagi kehidupan manusia1. Karena dapur adalah bagian dari rumah, dengan sendirinya juga memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan penghuni rumah tersebut.

Bagi orang Jawa, karena rumah dianggap sangat penting, maka ruang-ruang di dalam rumah ditata sedemikian rupa, sehingga ada bagian-bagian yang terbuka bagi orang luar atau tamu-tamu, dan ada pula bagian-bagian yang tabu atau harus disembunyikan dari orang luar.

Berkenaan dengan hal tersebut, tulisan berikut ini akan memokuskan diri pada salah satu unsur budaya Jawa, yaitu bagian dari papan, atau omah (rumah) yang disebut pawon atau dapur. Dapur, atau pawon ini mempunyai arti dan fungsi yang sangat penting dalam penyelenggaraan penyiapan kebutuhan makanan, maupun penyimpanan¬nya, serta kegiatan lainnya. Masalah yang muncul adalah sampai sejauh mana manusia Jawa memaknai dan memperlakukan dapur, atau pawon guna memenuhi kebutuhan akan makan, minum, dan kebutuhan lainnya.

Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, berubahnya lingkungan alam, dan kemajuan teknologi, dapur atau pawon juga mengalami perkembangan bentuk, arti dan fungsi.

Arti Pawon atau Dapur dan Tata Letaknya
Kata pawon merupakan sebutan untuk dapur dalam masyarakat Jawa pada antara yang baik dan buruk, bersih dan kotor2. Oleh karena itu dalam sistem klasifikasi itu maka kakus (jamban atau kamar kecil) maupun dapur letaknya selalu di belakang. Oleh karena dapur dianggap tempat kotor, maka dalam hal membuat bangunan dapur tidak begitu diperhatikan seperti halnya kalau membuat rumah induk. Menurut Daldjoeni (1985) pada umumnya bangunan dapur adalah bangunan tambahan, dan biasanya bangunan dapur dibuat sesudah bangunan rumah selesai.

Dapur atau pawon sebagai bangunan tambahan, tidak dianggap umumnya. Dapur, dalam bahasa Jawa disebut pawon, mengandung dua pengertian: pertama, bangunan rumah yang khusus disediakan untuk kegiatan masak-memasak dan; kedua, dapat diartikan tungku. Kata pawon berasal dari kata dasar awu yang berarti abu, mendapat awalan pa dan akhiran an, yang berarti tempat. Dengan demikian, pawon (pa+awu+an) yang berarti tempat awu atau abu. Kenyataannya memanglah demikian, dapur atau pawon memang tempat abu (bekas pembakaran kayu/arang di tungku), sehingga dianggap sebagai tempat yang kotor. Dapur dalam kehidupan tradisional orang Jawa, memang tempat abu, di sana¬sini nampak bergelantungan sawang (jelaga) yang hitam oleh asap api. Demikian juga peralatan memasak berwarna kehitaman karena j elaga. Kemungkinan disebabkan oleh keadaan seperti itulah (penampilan yang seba hitam dan kotor), maka di dalam susunan rumah tradisional Jawa, dapur pada umumnya terletak di bagian belakang.

Dalam budaya Jawa menurut Parsudi Suparlan, konsep tentang sistem klasifikasi mengenai alam semesta dan isinya terdapat konsep dikotomi sebagai bangunan pokok atau penting, dan konstruksi bangunan dapur sangat sederhana. Oleh karena itu untuk membuat dapur tidak diperlukan persyaratan yang rumit seperti akan membuat rumah induk yang memerlukan perhitungan waktu (primbon).

Dalam kehidupan tradisional Jawa, makan tidaklah mendapatkan perhatian penting. Dalam Kitab Wulangreh karya Paku Buwana IV mengatakan ‘aja pijer mangan nendra’ (jangan selalu makan dan tidur), dan ‘sudanen dhahar lan guling” (kurangilah makan dan tidur) menduduki tempat utama di dalam kepustakaan orang Jawa3. Pandangan hidup orang Jawa menandaskan bahwa kekuatan seseorang bukanlah tergantung pada banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh, melainkan kepada tekat dan batin. Orang tidak akan menjadi lemah tubuhnya hanya karena sedikit makan, bahkan sebaliknya, orang akan memperoleh ‘kekuatan’ karena sering melaksanakan ‘ngurang-ngurangi makan dan tidur (tirakat atau asketis).

Karena terpengaruh oleh pandangan hidup demikian itulah, maka dalam susunan arsitektur rumah Jawa, dapur atau pawon serta kegiatan memasak tidak mendapat perhatian khusus. Namun demikian di dalam pola pikir orang Jawa, makan diartikan menerima berkah dari Dewi Sri yang dianggap sebagai sumber rejeki4. Penghormatan terhadap Dewi Sri oleh orang Jawa semata¬mata bukan diwujudkan dalam makan dan kegiatan memasak, tetapi penanganan secara serius dalam pengolahan lahan pertanian sejak awal sampai pascapanen.

Perempuan dan Dapur
Di dalam kehidupan tradisional Jawa, dapur merupakan ranah dan wewenang kaum perempuan. Oleh sebab itulah maka isteri dalam kehidupan budaya Jawa disebut sebagai kanca wingking (teman yang berada dan/atau bekerja di belakang). Belakang di sini berarti di dapur. Istilah ini dinilai merendahkan martabat perempuan, seakan-akan wewenang perempuan hanya di dapur saja, tidak ada kemampuan untuk tampil di depan.

Bahwa dapur identik dengan perempuan dan menjadi ranah dan wewenang perempuan, juga tercermin misalnya kalau seorang suami yang sering ke dapur ada anggapan dalam budaya Jawa bahwa suami tersebut dinilai kurang mempercayai istri di dalam mengelola dapur atau ekonomi rumah tangga. Laki-Laki atau suami seperti itu disebut dengan istilah kethuk atau cupar. Jadi dapur merupakan dunia perempuan, dan sebagai ciri pengenal khusus, dapur dalam kehidupan tradisional Jawa ditekankan pada kendhil dan asap. Hal ini dikuatkan dengan adanya cerita rakyat Jaka Tarub5. Cerita ini melambangkan bagaimana peranan perempuan di dapur, dan dapat dimaknai suami harus percaya terhadap apapun yang dilakukan istri dalam kaitannya dengan dapur.

Sesuai dengan kedudukan perempuan di dapur dan hubungan perempuan dengan dapur, maka dalam pembuatan dapur pun secara tradisional ada perhitungan¬perhitungan yang berkaitan dengan perempuan. Menurut Koentjaraningrat6, terdapat kepercayaan pada orang Jawa bahwa dapur adalah bagian rumah yang pal¬ing lemah disebabkan dapur merupakan tempat perempuan, dan perempuan dianggap mahkluk yang paling lemah atau disebut liyu Arti kata liyu, dalam Bausastra Jawa¬Indonesia (1980), dapat diartikan capai atau lelah. Dari arti kata ini dapat dimaknai bahwa bekerja di dapur akan capai/lelah.

Dalam membuat dapur atau pawon ada yang masih menggunakan perhitungan¬perhitungan Jawa. Misalnya, oleh karena dapur dianggap sebagai tempat perempuan maka untuk membangun dapur harus dimulai saat neptune nyaine (hari pasaran kelahiran istri), misalnya Senin Pon, Selasa Wage dan sebagainya. Supaya dalam menggunakan dapur diberi keselamatan, ada juga yang menggunakan perhitungan yaitu jatuh tiba lara ( tiba = jatuh, lara = mati), jadi dapur atau pawon diartikan sebagai tempat barang mati, atau tempat buangan.

Di dalam studi perumahan tradisional, pembuatan dapur Jawa ada yang dimulai dengan perhitungan yang jatuh pada urutan liyu yang berarti lumbung. Seperti diketahui bahwa lumbung adalah tempat persediaan makan, sedangkan pawon atau dapur adalah tempat mengolah atau memasak. Jadi diharapkan dengan perhitungan jatuh pada urutan liyu, supaya pawon atau dapur tidak pernah berhenti atau kehabisan bahan masakan. Namun pada umumnya yang dianut adalah menghindari hari geblag (hari meninggalnya) keluarga dekat misalnya or¬ang tua, suami/istri, atau anak.

Pawon dan Peralatan Dapur
Dapur tradisional atau pawon tidak terlepas dengan peralatan yang digunakan dalam dapur tersebut, yaitu tungku tradisional yang memiliki berbagai sebutan lokal di antaranya pawon, keren, dhingkel, luweng, atau anglo. Tungku yang disebut dhingkel terbuat dari susunan batu bata yang berlubang satu atau sama sekali terbuka. Bentuk lain seperti dhingkel adalah yang disebut lainnya luweng, tetapi luweng lebih panjang dan memiliki lubang tiga sampai empat dan terdapat sebutan untuk masing-masing bagian yang berfungsi misal yang disebut cangkem luweng tempat untuk memasukkan kayu bakar, bolongan luweng atau slowongan untuk tempat meletakkan peralatan masak, tumang atau bibir dhingkel, dan lawih sebagai penopang (ganjel) yang diletakkan pada bibir. Peralatan tungku yang pada umumnya digunakan oleh sebagian penduduk di daerah pedesaan adalah keren. Alat tungku yang disebut keren juga memiliki bagian-bagian yang berfungsi yaitu cangkem keren untuk meletakkan bahan bakar, dan pada bagian atas bolongan keren untuk meletakkan peralatan memasak. Baik dhingkel, luweng, maupun keren menggunakan bahan bakar kayu, sepet, bambu, atau sampah-sampah kering.

Tungku lainnya yang juga masih digunakan adalah anglo, yang bahan bakarnya menggunakan arang. Anglo juga mempunyai bagian-bagian yang masing¬masing memiliki fungsi yang berbeda yaitu sarangan anglo untuk tempat arang, cangkem anglo (mulut anglo) adalah tempat kita mengipaskan kipas agar api menyala lebih besar. Alat lain yang sekarang sudah mulai banyak digunakan adalah kompor.

Di dalam dapur tradisional peralatan memasak yang pada umumnya digunakan adalah peralatan yang terbuat dari tanah liat dan anyaman bambu. Peralatan memasak dari tanah liat misalnya kuali7, pengaron8, kendhil atau jemblukan9, cowek10, kekep11, genthong12. Selain peralatan dari tanah liat juga banyak yang mengunakan peralatan dari tembaga, besi, aluminium, seng, misalnya dandang, kenceng, wajan, ketel, ceret, panci. Peralatan lainnya terbuat dari anyaman bambu seperti kukusan13, salang14, kalo, cething, tenggok trinil, tampah, selon15 dan dari tempurung kelapa misalnya irus, enthong, siwur; peralatan dari kayu misalnya munthu, parut, enthong, gledheg atau grobog. Tempat untuk menyimpan peralatan dapur tersebut pada umumnya diletakkan pada sebuah rak kayu, atau rak bambu, atau ada yang disebut paga, bethekan atau pranjen.

Dilihat dari peralatan tungku yaitu dhingkel, luweng, keren, serta perabot pawon yang sebagian besar terbuat dari tanah liat, anyaman bambu, maupun tempat menyimpan peralatan tersebut, hampir semuanya dengan memanfaatkan bahan¬bahan yang terdapat di lingkungannya.

Dapur Tradisional dan Lingkungan Hidup
Dapur mempunyai peranan yang penting, yaitu menjadi pusat kegiatan sehari¬hari untuk penyediakan makan-minum keluarga. Meskipun dapur atau pawon menjadi pusat kegiatan, tetapi masalah kebersihan lingkungan kurang diperhatikan. Tempat pembuangan limbah air dapur biasanya berada di samping atau di belakang dapur, dan itu biasanya tidak secara khusus dibuat untuk itu. Jadi limbah dapur yang dialirkan ke belakang rumah langsung ke kebun atau tegalan di belakang rumah atau dialirkan ke tempat kolam ikan. Namun ada juga yang dialirkan ke sebuah lubang (jugangan) yang dibuat secara khusus di belakang rumah. Pembuangan air limbah di daerah pedesaan kebanyakan berpola seperti itu. Memang terkesan tidak ada perhatian terhadap kebersihan lingkungan akan tetapi dari tindakan-tindakan mereka tersembunyi kearifan-kearifan lingkungan. Seperti misalnya di daerah tertentu ada yang air limbah dapur ditampung ke dalam ember dan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman kebun atau tegalan yang ada di belakang dan samping rumah. Bahkan ada yang sebagian ditampung untuk minum ternaknya. Pola seperti ini pada umumnya terdapat di daerah yang tidak tersedia cukup air atau di daerah kering16. Sedangkan dalam hal pembuangan sampah ada yang dibuatkan lubang untuk menampung kemudian dibakar, apabila sudah penuh kemudian diaduk dengan tanah yang ada untuk dijadikan sebagai pupuk17, atau ada yang dibiarkan sampai kering untuk bahan bakar18, ada pula yang dikumpulkan sebagian untuk pupuk pohon pisang.

Pemanfaatan limbah dapur maupun sampah yang ada di sekitarnya menunjukkan bahwa sebenarnya ada praktik-praktik daur ulang, dalam arti bahwa limbah tersebut diproses dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya baik untuk kelestarian lingkungan maupun kebutuhan manusia itu sendiri.

Rumah, pekarangan, serta pawon atau pegunungan yang berhawa dingin, masih ada kebiasaan (walaupun sekarang sudah j arang dilakukan) untuk bertandang ke tetangga pada malam hari, sambil membakar ketela atau jagung di dapur sambil mengobrol bersama.Dengan dapur merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi sosial. Pekarangan biasanya digunakan untuk menanam tanaman produktif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka panjang maupun jangka pendek. Untuk kebutuhan jangka panjang misalnya tanaman keras, sedangkan tanaman jangka pendek untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya tanaman yang disebut cepakan yaitu tanaman sayuran, atau dedaunan lainnya yang langsung dapat dimanfaatkan. Pawon atau dapur menjadi tempat menyimpan makanan mentah dan masak (mentah mateng), dan bumbu-bumbu dapur lainnya.

Dalam hubungan ketetanggaan, masuk ke pekarangan, atau dapur untuk sekedar bertandang atau untuk meminta sayuran atau bumbu, merupakan hal yang biasa. Bahkan di daerah berkembangnya teknologi (terutama di kota) tata ruang dapur sekarang dibangun sedemikian rupa dan menggunakan peralatan yang bukan dari tanah liat atau anyaman bambu, tetapi peralatan modern serba elektronik. Demikian juga pawon atau dapur (khusus di kota) letaknya tidak di belakang tetapi menjadi satu sebagai bagian dari tata ruang rumah. Apabila ini dikaitkan dengan kata pawon, maka konotasi dari kata pawon dengan dapur menjadi tidak tepat, karena pada dapur yang modern tersebut tidak akan dijumpai timbunan abu seperti yang dijumpai pada dapur tradisional. Bergesernya pengertian pawon tersebut, tentunya akan memberikan gambaran pula kepada kita mengenai tata ruang dapur di masa akan datang, dan tidak akan ada lagi diskriminasi seks yang berperan di dapur.

Ungkapan-Ungkapan
Di dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa, banyak kejadian-kejadian, atau peristiwa yang dinyatakan dengan ungkapan¬ungkapan yang sebagian menggunakan dapur dan peralatannya. Pawon atau dapur dan kegiatannya, ternyata menduduki tempat yang penting. Ungkapan ‘aja nganti nggoling kendhile ‘ (kendhil jangan sampai terguling) mengandung maksud agar bersikap hati-hati, hemat, cermat di dalam mengelola ekonomi rumah tangga; di samping itu untuk menyatakan kondisi perekonomiannya yang sedang mengalami kemunduran. Di sini kendhil dimaknai sebagai simbol ekonomi rumah tangga. Kehidupan perekonomian suatu rumah tangga bisa dihubungkan dengan kendhil. Misalnya, seorang istri yang bekerja nencari nafkah dikatakan kanggo jejegke kendhil, maksudnya untuk menambah penghasilan supaya dapat memasak untuk keluarga. Orang yang bekerja apapun untuk mendapatkan uang atau bekerja keras dinyatakan dengan kata ‘demi kendhil’.

Kecuali dengan istilah kendhil, kesatuan perekonomian rumah tangga juga dinyatakan dengan istilah pawon. Suatu keluarga yang terpisah karena pekerjaan, yang masing-masing memerlukan pengelolaan perekonomian sendiri-sendiri, sering dikatakan mikir pawon loro. Dengan demikian istilah pawon bukan hanya mengandung pengertian bangunan khusus untuk melaksanakan kegiatan memasak, melainkan juga merupakan lambang rumah tangga 19

Peralatan dapur juga digunakan untuk menyampaikan ungkapan-ungkapan yang maknanya sangat mengena dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ungkapan ora mambu enthong irus, artinya untuk menyatakan bahwa orang lain yang tidak ada hubungan keluarga, demikian juga ungkapan ora mambu sega jangan20.

Sebaliknya ada ungkapan yang dinyatakan dengan hasil masakan yaitu mambu-mambu yen sega mengibaratkan orang yang masih memiliki pertalian keluarga; ungkapan lain bacin-bacin yen iwak, untuk mengungkapkan bahwa pada umumnya orang itu mengutamakan keluarga sendiri .

Ungkapan adang-ngliwet, me¬ngandung makna melaksanakan kerjasama untuk mendapatkan imbalan, dan dalam pembagiannya disesuaikan dengan kedudukan masing-masing dalam pekerjaan tersebut. Ungkapan ini juga mengandung makna kecaman terhadap ketidakadilan, mis¬sal sama-sama melakukan tugas yang sama tetapi masing-masing imbalan berbeda.

Ungkapan yang ada hubungannya dengan tungku adalah lambe satumang kari semerang, artinya bibir setebal tumang tinggal setebal merang. Maksudnya adalah nasehat yang tidak dihiraukan sama sekali, ibarat bibir sampai tipis karena banyaknya memberi nasehat, namun tak ada hasilnya.

Ungkapan tumbu oleh tutup, artinya mendapat jodoh yang sesuai, atau mendapat sahabat yang mempunyai persamaan watak. Ungkapan yang ada hubungan dengan alat dapur yaitu jenang sak layah, artinya buah pemikiran yang sudah bulat.

Dalam percakapan sehari-hari, hubungan saudara yang diperoleh karena perkawinan disebut munthu katutan sambel. Demikian juga hubungan saudara sekerabat dari keturunan enam dan tujuh disebut udheg¬udheg gantung siwur. Seseorang yang pantatnya besar dinyatakan dengan ungkapan pawon atau dapur tradisional adalah pemakaian tungku tradisional dan menggunakan bahan bakar kayu, serta peralat an memasak dari tanah liat atau gerabah, dari anyaman bambu, dan kayu.

Pembuangan limbah dapur, dan sampah di sekitar lingkungan rumah pada umumnya dialirkan begitu saja atau dibuatkan lubang pembuangan, dan sebagainya, ternyata ada yang bersifat daur ulang, dan tersembunyi kearifan-kearifan di dalam memanfaatkan limbah dapur dan sampah di lingkungannya.

Pawon atau dapur beserta peralatan¬nya mewarnai dalam tatacara kehidupan sehari-hari, yang tercermin dari ungkapan¬ungkapan yang terkait dengan dapur dan isinya.

Oleh berjalannya waktu, serta ber¬kembangnya teknologi, pawon atau dapur mungkin akan mengalami perubahan fisik maupun isinya seperti di kota. Dengan demikian pengertian pawon, arti dan fungsinya juga akan mengalami pergeseran. Bila itu terjadi maka fungsi dan makna filosofi pawon akan lepas dari tata kehidupan orang Jawa.

1 Djoko Surjo, Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan: Pola Kehidupan Sosial Ekonomi dan Budaya. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), 1985.

2 Parsudi Suparlan, “Kebudayaan dan Tata Ruang: Struktur Kehidupan Manusia, Tradisi, dan Perubahan”. Seminar Arsitektur Tradisional di Surabaya. Jakarta: Proyek IDKD, 1986.

3 Pakubuwono IV, Wulangreh Winardi. R.M Sutarto Hardjowahono, Surakarta, 1953.

4 Soepanto, “Peranan Ngantenan Dalam Upacara Wiwit di Kalangan Masyarakat Petani Jawa” Bunga Rampai Adat Istiadat. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, 1977.

5 Dalam cerita Jaka Tarub dikisahkan Jaka Tarub memperistri seorang bidadari bernama Dewi Nawangwulan. Jaka Tarub heran kenapa beras yang ada di dalam lumbung tidak habis-habisnya. Didorong karena keingintahuannya maka Jaka Tarub melanggar pesan istrinya agar tidak masuk ke dapur. Tetapi keingintahuan Jaka Tarub tersebut harus dibayar mahal. Karena sesudah itu beras atau padinya menjadi cepat habis dan isterinya dapat menemukan selendang yang disembunyikan di dalam lumbung ditimbuni padi. Isterinya kemudian pulang ke kayangan meninggalkan Jaka Tarub dan anaknya.

6 Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa. Jakarta: P.N Balai Pustaka, 1984.

7 Kuali biasanya untuk memasak sayur.

8 Pengaron untuk tempat air, atau untuk ngaru nasi (memasak nasi sebelum di dang).

9 Kendhil atau jemblukan untuk memasak air, atau merebus jamu.

10 Cowek peralatan untuk membuat sambal atau menghaluskan bumbu.

11 Kekep kecil untuk tutup kendhil atau kuali, kekep besar untuk tutup adang (menanak nasi).

12 Genthong tempat untuk tandhon air bersih (menyimpan air).

13 Kukusan untuk adang nasi (memasak nasi dengan cara dikukus).

14 Salang adalah gantungan terbuat dari siratan kulit bambu atau dari tampar untuk tempat menyimpan makanan.

15 Selon terbuat dari bambu untuk tempat menyimpan munthu, irus.

16 Pola seperti itu terdapat di daerah Gunung Kidul dan Kulon Progo.

17 Terutama di daerah tandus Gunung Kidul.

18 Terdapat di daerah Bantul, sampah ada yang digunakan untuk penyubur pohon pisang , dan sampah kering digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak gula Jawa.

19 Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat, 1981.

20 Dalil Prawirodihardjo, Paribasan. Yogyakarta: Spring, tt.

Daftar Pustaka

Dalil Prawirodihardjo, tt. Paribasan. Yogyakarta: Spring.

Djoko Suryo, 1985. Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan: Pola Kehidupan Sosial Ekonomi dan Budaya. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi).

Koentjaraningrat, 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: P.N Balai Pustaka.

Parsudi Suparlan, 1986. “Kebudayaan dan Tata Ruang: Struktur Kehidupan Manusia, Tradisi, dan Perubahan”. Seminar Arsitektur Tradisional di Surabaya. Jakarta: Proyek IDKD.

Soepanto, 1977. “Peranan Ngantenan Dalam Upacara Wiwit di Kalangan Masyarakat Petani Jawa” Bunga Rampai Adat Istiadat. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya.

Sutarto Hardjowahono, R.M. 1953. Pakubuwono IV Wulangreh Winardi. Surakarta.

Sumber :
Jaritra Vol. I, No. 1, Juni 2006 ISSN 1907 – 9605 Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisonal Jogjakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

pakaian adat jawa timur

pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. pakaian ini sering digunakan saat perkawinan d masyarakat magetan jawa timur images wallpapers
pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. pakaian ini sering digunakan saat perkawinan d masyarakat magetan jawa timur

Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Jawa Timur

Budaya dan adat istiadat
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.

Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.

Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.

Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.

Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

Senin, September 06, 2010

Seni Tari Jawa Tengah

SENI TARI JAWA TENGAH

Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Macam-macam tariannya :

Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera Damarwulan.

Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti :
-- Dadung Ngawuk, Kuda Kepang, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg,
Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.

Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih bebas, lebih perseorangan.

Dalam seni tari dapat dibedakan menjadi klasik, tradisional dan garapan baru. Beberapa jenis tari yang ada antara lain :

1. Tari Klasik

-- Tari Bedhaya :
Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :



a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri






Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan :
-- Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
-- Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit

Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan bersifat monumental.

Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.

Contoh Bedhaya garapan baru :
-- Bedhaya La la lama tarian 15 menit
-- Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
-- Bedhaya Alok lama tarian 15 menit
dll.


-- Tari Srimpi
Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
dll.
Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi :
a. Beksan Gambyong : berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.

Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri Tari ini :
-- Jumlah penari seorang putri atau lebih
-- Memakai jarit wiron
-- Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
-- Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
-- Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.

b. Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul, yang 'aeng', yang 'linuwih'. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :
-- Ditarikan oleh dua orang putra/i
-- Bentuk tariannya sama
-- Tidak mengambil suatu cerita
-- Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
-- Bentuk pakaiannya sama
-- Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
-- Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian
diteruskan gendhing ketawang
-- Tidak ada yang kalah/menang atau mati.

c. Tari Pethilan : hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan / bagian dari ceritera pewayangan.

Ciri-cirinya :
-- Tari boleh sama, boleh tidak
-- Menggunakan ontowacono (dialog)
-- Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
-- Ada yang kalah/menang atau mati
-- Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
-- Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
-- Bambangan Cakil
-- Hanila
-- Prahasta, dll.

d. Tari Golek : Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macam-macamnya :
-- Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
-- Golek Montro iringan Gendhing Montro
-- Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi :
-- Bondan Cindogo
-- Bondan Mardisiwi
-- Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri pakaiannya :
-- Memakai kain Wiron
-- Memakai Jamang
-- Memakai baju kotang
-- Menggendong boneka, memanggul payung
-- Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Ciri pakaiannya :
-- mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
-- Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

f. Tari Topeng :
Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.


2. Tari Tradisional

Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa contoh kesenian tradisional :
a. Tari Dolalak, di Purworejo.
Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung, rebana, kendang, kencer, dllnya. Menurut cerita, kesenian ini timbul pada masa berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain.

b. Patolan (Prisenan), di Rembang.
Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat ini berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai antara kecamatan Pandagan, Kragan, Bulu sampai ke Tuban, Jawa Timur.
c. Blora.
Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang, Barongan dan Wayang Krucil(sejenis wayang kulit terbuat dari kayu).
d. Pekalongan
Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, terbang, dllnya. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri, sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek, kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen.
e. Obeg dan Begalan.
Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang (dukun) yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar.
Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap, Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Yang bersifat khas Banyumas antara lain Calung, Begalan dan Dalang Jemblung.
f. Calung dari Banyumas
Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyi- bunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu, lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. Sedangkan untuk Begalan biasanya diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. Yang mengadakan upacara ini adalah dari pihak orang tua mempelai wanita.
g. Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung
Kesenian ini diperagakan secara massal, sering dipentaskan untuk menyambut tamu -tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara
h. Lengger dari Wonosobo
Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar.
i. Jatilan dari Magelang
Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende, kenong dll. Dan pada puncaknya pemain dapat mencapai tak sadar.
j. Tarian Jlantur dari Boyolali
Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang, dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.
k. Ketek Ogleng dari Wonogiri
Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji, mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. Ceritera ini kemudian diubah menurut selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali.


3. Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)

Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Sebagai contoh :
a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.

Seni Tari Kutai

Seni tari suku Kutai dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni Seni Tari Rakyat dan Seni Tari Klasik.

Seni Tari Rakyat
Merupakan kreasi artistik yang timbul ditengah-tengah masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur-unsur tarian yang ada pada tarian suku yang mendiami daerah pantai.
Yang termasuk dalam Seni Tari Rakyat adalah:

1. Tari Jepen
Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun di daerah pantai.

Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil).

Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.

Seni Tari Klasik
Merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau.
Yang termasuk dalam Seni Tari Klasik Kutai adalah:

1. Tari Persembahan
Dahulu tarian ini adalah tarian wanita kraton Kutai Kartanegara, namun akhirnya tarian ini boleh ditarikan siapa saja. Tarian yang diiringi musik gamelan ini khusus dipersembahkan kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke Kutai dalam suatu upacara resmi. Penari tidak terbatas jumlahnya, makin banyak penarinya dianggap bagus.
Tari Ganjur
Tari Ganjur

2. Tari Ganjur
Tari Ganjur merupakan tarian pria istana yang ditarikan secara berpasangan dengan menggunakan alat yang bernama Ganjur (gada yang terbuat dari kain dan memiliki tangkai untuk memegang). Tarian ini diiringi oleh musik gamelan dan ditarikan pada upacara penobatan raja, pesta perkawinan, penyambutan tamu kerajaan, kelahiran dan khitanan keluarga kerajaan. Tarian ini banyak mendapat pengaruh dari unsur-unsur gerak tari Jawa (gaya Yogya dan Solo).

3. Tari Kanjar
Tarian ini tidak jauh berbeda dengan Tari Ganjur, hanya saja tarian ini ditarikan oleh pria dan wanita dan gerakannya sedikit lebih lincah. Komposisi tariannya agak lebih bebas dan tidak terlalu ketat dengan suatu pola, sehingga tarian ini dapat disamakan seperti tari pergaulan. Tari Kanjar dalam penyajiannya biasanya didahului oleh Tari Persembahan, karena tarian ini juga untuk menghormati tamu dan termasuk sebagai tari pergaulan.

4. Tari Topeng Kutai
Tari ini asal mulanya memiliki hubungan dengan seni tari dalam Kerajaan Singosari dan Kediri, namun gerak tari dan irama gamelan yang mengiringinya sedikit berbeda dengan yang terdapat di Kerajaan Singosari dan Kediri. Sedangkan cerita yang dibawakan dalam tarian ini tidak begitu banyak perbedaannya, demikian pula dengan kostum penarinya.
Tari Topeng Kutai terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:
01. Penembe
02. Kemindhu
03. Patih
04. Temenggung
05. Kelana
06. Wirun
07. Gunung Sari
08. Panji
09. Rangga
10. Togoq
11. Bota
12. Tembam
Tari Dewa Memanah
Tari Dewa Memanah

Tari Topeng Kutai hanya disajikan untuk kalangan kraton saja, sebagai hiburan keluarga dengan penari-penari tertentu. Tarian ini juga biasanya dipersembahkan pada acara penobatan raja, perkawinan, kelahiran dan penyambutan tamu kraton.

5. Tari Dewa Memanah
Tarian ini dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan busurnya keatas dan kebawah, disertai pula dengan bememang (membaca mantra) yang isinya meminta pada dewa agar dewa-dewa mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.
tari ganjur seni
tari ganjur

tari dewa memanah
tari dewa memana

Seni Tari Dayak

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

Tari Perang
Tari Perang

2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.

Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.





Tari Kancet Ledo

3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.

Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

5.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.


Tari Hudoq

6. Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita'
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).
Belian
Tari Belian Bawo

9. Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

10. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

12. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

14. Tari Baraga' Bagantar
Awalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

GAMELAN KARATON


Jika kita mengunjungi lingkungan Keraton Surakarta, maka kita juga bisa melupakan keberadaan nama gamelan yang memiliki nilai khusus dan hanya dimainkan menurut fungsinya masing-masing.Gamelan memang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan Keraton yang merupakan pusat kebudayaan terutama di bidang musik tradisional. Dari beberapa nama gamelan Keraton Surakarta yang ada, salah satunya adalah Kyai Kaduk Manis Renggo. Gamelan ini ditempatkan di teras paningratan dan seperti halnya yang lain, gamelan yang satu ini juga memiliki fungsi tersendiri. BPH Prabuwinoto, kepala Kantor Keparak dan Mondrobudoyo Keraton Surakarta menjelaskan, Kyai Kaduk Manis Renggo tersebut adalah yasan Sri Susuhunan PB IX yang dipakai untuk upacara khusus seperti jumenengan. “ Kyai Kaduk Manis Renggi memeng dibuat dan hanya dibunyikan untuk menyambut tamu-tamu Keraton yang bersifat khusus atau istilahnya tamu agung “

Kyai Kaduk Manis Renggo Yasan Sri Susuhunan PB IX


Namun demikian, Kyai Kaduk Manis Renggo ini tidak hanya menjalankan tugasnya semasa Sri Susuhunan PB IX saja, melainkan sampai sekarang masih terus digunakan untuk menyambut tamu-tamu khusus Keraton seperti yang dilakukan pada masa Sri Susuhunan PB IX. Selain itu gamelan yan satu ini juga diperuntukkan pada saat upacara pentas bedhaya yang biasa digelar pada Rabu dan Sabtu. Dijelaskan pula oleh BPH Prabuwinoto, yang jenis pelog berasal dari Demak Bintoro dan yang Slendro berasal dari Keraton Kartasura, jadi ketika masih Mataram.

Apresiasi Warga Hungaria Terhadap Budaya Indonesia

Tarian, musik tradisional hinggga lukisan yang dilukis para pelukis Indonesia mendapat apreasiasi dari masyarakat Hungaria menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata mereka.

Salah satunya adalah Ivan Redey, seorang pemilik suatu art studio, yang sangat mencintai Bali mengadakan pameran lukisan Bali, demikian Sekretaris II Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Budapest, Annie P.R Yunus, dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA News, Minggu.

Pameran lukisan diselenggarakan di suatu tempat yang prestisius yaitu di gedung Bank Centre Budapest yang terdapat beberapa kedutaan dan bank asing.

Dikatakannya, kegiatan tersebut secara tidak langsung membantu mempromosikan Indonesia dan pameran akan berlangsung selama 1 bulan yaitu dari tanggal 30 Agustus hingga 31 September 2010.

KBRI Budapest mendapat kehormatan untuk membuka pameran yang diwakili Annie P.Rosita sebagai PF Pensosbud KBRI Budapest. dalam sambutannya, menyambut baik pameran dimaksud seraya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ivan Redey yang telah berupaya mengadakan pameran.

Annie P.Rosita juga mengajak para pengunjung untuk datang dan mengunjungi Indonesia agar mereka dapat melihat dan merasakan sendiri secara langsung keindahan dan keanekaragaman budaya Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, KBRI Budapest telah menampilkan tarian tradisional yang ditarikan para penari dari Sanggar Tari KBRI Budapest.

Pameran lukisan dan pertunjukan tarian tersebut telah mendapat apresiasi yang tinggi dari para undangan dan pengunjung yang hadir karena selain mereka selalu memberikan tepuk tangan yang meriah pada setiap akhir pertunjukkan, mereka juga dengan tekun mengikuti acara hingga dini hari pada saat seluruh acara selesai.

Minggu, Agustus 22, 2010

Kesenian…milik siapa

Sebagaimana telah kita pahami bahwa kesenian di semua daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Ini tidak saja berlaku untuk kesenian rakyat namun juga kesenian kontemporer. Kabupaten Purworejo yang memiliki berbagai macam kesenian, sudah saatnya memiliki konsep jelas kemana arah kesenian akan dibawa. Banyak pihak sudah “memikirkan” perkembangan kesenian ini. Namun, banyak pihak juga yang berhenti hingga sampai titik “memikirkan”. Tanpa memperjelas solusi yang harus dilaksanakan. Apalagi arah / titik dimana akan “ditempatkan” kesenian di masa yang akan datang. Tulisan ini semoga menjadi bahan perenungan kita bersama, semua pihak entah birokrat maupun pelaku seni, perorangan / pemerhati seni atau bahkan pihak swasta sekalipun yang memiliki kepedulian akan seni budaya. Pokoknya siapapun.
Patut kita sadari bersama, bahwa keanekaragaman seni yang ada di Kabupaten Purworejo membutuhkan perhatian. Banyak pihak sudah yang penulis temui baik langsung maupun tidak (misal melalui media internet) yang memberikan masukan kepada semua pihak berkenaan kegiatan seni budaya di kabupaten tercinta. Mulai dari pertanyaan tentang jenis-jenis kesenian yang sampai saat ini masih hidup di kabupaten tercinta, hingga mempertanyakan kesenian yang akan mati dan atau mati suri, sampai ada yang hanya sekedar menanyakan bentuk pementasan dari suatu jenis kesenian. Dari titik itulah penulis berkesimpulan bahwa tidak sedikit orang Purworejo baik yang didalam maupun diluar daerah yang memberikan perhatian pada bidang kesenian. Bahkan diantaranya memiliki rasa memiliki yang teramat mendalam mengenai kesenian daerah. Ini dimaklumi, karena apapun bentuk keseniannya jika itu dari daerah asal akan menjadi tali pengikat yang sangat kuat bagi warga purworejo yang berada di luar daerah. Bagaimana rasanya seseorang yang tiap hari bergulat mencari nafkah jauh dari tanah kelahirannya …. menghadapi persaingan, bekerja keras dan segala macamnya.. tiba-tiba saja mendapatkan informasi tentang kesenian di daerahnya atau bahkan berkesempatan untuk menonton kesenian daerahnya tampil di kota dimana mereka tinggal. Bagaikan oase di tengah gurun yang kering. Itulah mengapa mereka banyak memberikan masukan tentang kesenian, disamping para pelaku seni di dalam daerah.
Kesenian bisa menjadi “wajah” suatu daerah. Banyak sudah pementasan yang dilaksanakan di luar daerah membuktikan itu. “Kedigdayaan” kesenian menjadi wakil daerah setidaknya memunculkan bentuk apresiasi dari para penikmat seni. Para penikmat seni bisa berasal dari putra daerah yang tinggal di daerah lain, maupun warga setempat yang memang mencari sekedar hiburan. Apa yang dipersembahkan oleh duta seni menjadi “wakil” dan sekaligus “wajah” kabupaten tercinta.
Disamping itu kerja keras untuk memberikan ruang ekspresi seni bagi para penggiat kesenian dan sekaligus sebagai wahana ekspresi bagi masyarakat luas menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Kehidupan berkesenian yang selama ini ada seakan menemui jalan buntu ketika beberapa pementasan lokal tidak diadakan. Akhirnya semua kembali ke masyarakat (lagi). Padahal dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Di masa yang akan datang mestinya “ruang” itu dapat kembali dihidupkan. Sehingga diharapkan dapat komplit sinergi yang terbentuk antara masyarakat dan pemerintah. Sekali lagi …(mestinya) kesenian bukan hanya milik masyarakat saja…kita semua memiliki kewajiban untuk mendukung..membina bahkan mengembangkan.
Jangan sampai ketika orang / pihak lain mengklaim kesenian kita… baru terasa ada yang terbakar dibawah dagu kita. Dan kita hanya bisa berguman : “O iya ya… kita selama ini telah lengah mengurusi kesenian.”
Mari kita selamatkan kesenian Purworejo, selamatkan seni budaya kita. Saat ini…hal inilah yang harus kita laksanakan.
Salam budaya…

KESENIAN INCLING DESA SEMAGUNG KECAMATAN BAGELEN

Riwayat singkat Kesenian Incling ini sebenarnya bersumber dari sebuah cerita yang terdapat di Jawa Timur dan khususnya Karesidenan Madiun yang berpusat di Ponorogo.

Adapun cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :

1. Di Ponorogo ada seorang bernama Suromenggolo, ia seorang yang sakti mandraguna. Dalam hidupnya ia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Sarinten, ia adalah wanita yang sangat cantik sekali. Karena kecantikannya itu ia dilamar oleh seorang dari Trenggalek bernama Singalodra. Karena Sarinten tidak mau, maka Sarinten dibunuh oleh Singajaya atas perintah Singalodra.

2. Karenanya marahlah Suromenggolo. Sehubungan dengan itu ia memasang umbul-umbul sebagai tanda menantang perang terhadap Singalodra. Umbul-umbul tersebut terlihat pula oleh Singalodra dan kawan-kawannya. Terjadilah peperangan.

3. Dalam peperangan ini mereka masing-masing saling mengerahkan prajurit. Keduanya sangat kuat. Singalodra mengeluarkan kekuatannya/kesaktiannya dengan gigi siungnya, sedang Suromenggolo dengan kekuatan/kesaktiannya pada cemeti/pecut.

4. Abdi-abdi Suromenggolo dalam keadaan yang demikian ini tidak dapat berbuat lebih bayak. Mereka hanya bimbang/bingung. Padahal seharusnya ia memihak pada bendara atau tuannya. Kadang-kadang ia menggambarkan peperangan ini bagaikan pertarungan ayam jantan (adu jago). Sebagai gambaran bahwa seekor ayam akan bertarung dengan gigihnya bahkan sampai matipun ia rela.

Dengan gambaran abdi-abdi yang demikian itu dapat ditangkap oleh kedua prajurit. Sehingga mengakibatkan peperangan semakin seru. Mereka masing-masing saling menggunakan kekuatan lahir : silat, pedang dan lain sebagainya. Kekuatan batin dengan berbagai macam ilmu kebatinan.

Demikianlah cerita singkat tentang Kesenian Incling Semagung yang diilhami dari cerita aslinya dalam cerita Singalodra melawan Suromenggolo.

Kesenian Cing Poo Ling

Kesenian Cing Poo Ling menggambarkan prajurit yang sedang latihan perang. Tema ini tetap bertahan sampai sekarang. Kesenian Cing Poo Ling merupakan kesenian tradisional sejenis atau reogan mengalami perkembangan sebagai tari perang dan bertemakan tentang kepahlawanan. Biasanya yang diambil dalam kesenian jathilan, reog maupun sejenisnya adalah cerita panji, namun kesenian Cing Poo Ling di Desa Kesawen, Kec. Pituruh memiliki ciri khas yaitu tentang keprajuritan sebagai pengawal.

Kesenian ini diperkirakan muncul pada abad XVII. Bermula dari kegiatan pisowanan ke kraton yang dilakukan oleh Ki Demang. Dimana pada saat menunggu pisowanan, para pengawal Ki Demang melakukan permain dengan menggunakan gerakan-gerakan keprajuritan.

Asal mula nama Cing Poo Ling terdapat beberapa versi, dua diantaranya adalah

Pada perkembangannya, kesenian Cing Poo Ling peraganya terdiri dari :

1. Kelompok pertama terdiri dari : 4 (empat) orang penari yang berperan : 1 orang sebagai Ki Demang, 2 orang sebagai pendamping (gandhek), 1 orang penyongsong.
2. Kelompok kedua terdiri dari : 4 (empat) orang penabuh yang terdiri dari 3 (tiga) orang berperan sebagai penabuh bendhe dan 1 (satu) orang sebagai juru tiup slompret.
3. Kelompok ketiga terdiri dari : 9 (sembilan) orang yang terdiri dari : 1 (satu) orang pemayung, 2 (dua) orang pemencak, 2 (dua) orang pendamping, 2 (dua) orang penipung, 2 (dua) orang pengecrek.
Penyelenggaraan di ruang terbuka, misalnya lapangan, halaman depan rumah. Walaupun pada awalnya hanya di lingkungan kadipaten tempat pisowanan berlangsung. Penonton dan penari dalam jarak yang dekat. Diurasi waktu pementasan sekitar 1 - 2 jam. Namun karena pertimbangan dan perkembangan, bisa dipadatkan menjadi ½ jam.



Keterangan :

pisowanan : adalah sebuah tradisi dalam kerajaan-kerajaan Jawa, di mana bawahan-bawahan raja / sultan datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan boleh dikatakan merupakan sebuah wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada raja. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, raja/sultan biasanya akan memberikan nasehat, teguran, ataupun perintah (titah) bagi masing-masing pemimpin daerah.

Kamis, Juli 22, 2010

KESENIAN CEKOK MONDHOL

Kesenian Cekok Mondhol merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang bernuansa keagamaan Islam. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di Desa Ngasinan Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Letak desa ini di daerah pegunungan, perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Wonosobo. Berawal dari ide sekelompok pemuda desa, komunitas pengajian untuk membentuk grup kesenian yang bisa dijadikan hiburan sekaligus tuntunan. Gerak, lagu dan syairnya serta musik iringannya hasil adaptasi dari kesenian yang ada di daerah Magelang yaitu Kubro Siswo yang kemudian dimodifikasi dengan hasil kreativitas para pemuda setempat, dipelopori oleh pemuda yang bernama Purwadi sekitar tahun 1970-an.

”Cekok” adalah istilah Jawa yang memiliki arti memasukkan jamu atau obat ke mulut yang berguna untuk kesehatan tubuh. ”Mondhol” juga istilah Jawa yang artinya bungkusan kain yang diikat. Relevan dengan syair lagu yang berisi nasehat keagamaan Islam, hidup bernegara dan bermasyarakat, maka harapannya nasehat yang diberikan tersebut disimpan untuk dijadikan tuntunan hidup, hal ini dapat dilihat dari simbol yang ada pada kostum tyaitu blangkon yang terdapat mondholannya.

Gerak tarinya energik dengan dominasi gerak kaki. Ditarikan oleh kaum laki-laki karena banyak hentakan kaki. Kostum yang dipakai adalah surjan lengkap dengan celana komprang, kain batik, lontong, kamus (sabuk), blangkon yang terdapat mondholannya. Alat musiknya terdiri dari kenthongan sejumlah 3 buah, ketipung sejumlah 4 buah yang terbentuk dalam 1 set, bedhug sejumlah 1 buah dan tamborin sejumlah 1 buah. Kesenian ini sering ditampilkan pada acara-acara yang diselenggarakan oleh desa setempat dan sekitarnya, juga orang yang punya hajatan dan pada festival kesenian rakyat.

KESENIAN SOYAR MAOLE

Kesenian kentrung rebana SOYAR MAOLE saat ini sebarannya meliputi beberapa dusun di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Untuk gambaran kesenian Soyar Maole di Dusun Jetis Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo sebagai berikut :

Menurut riwayat tidak tertulis dari para pendahulu/leluhur Desa Kaligono, kesenian Kentrung Rebana Soyar Maole sudah ada sejak tahun 1907, yang kemudian secara tradisi diteruskan oleh generasi ke generasi walaupun menjalani pasang surut, masih tetap bertahan sampai sekarang.

Konon menurut cerita, pada tahun 1907 terdapat seorang warga Desa Kaligono yang menunaikan ibadah haji. Sekembali dari ibadah haji, beliau mengajarkan agama Islam di Desa Kaligono. Metode dakwah yang dilakukannya dengan berbagai cara, salah satunya adalah lewat kesenian yang berkembang pada masa itu. Metode dakwah tersebut konon diperoleh dari Sunan Kalijaga.

Kesenian ini disajikan oleh 6 orang atau lebih pemusik dan 10 orang penyanyi (walaupun terdapat grup yang memiliki anggota hingga 20 orang). Alat musik terdiri dari kendang (1 buah), ketipung (1 buah), rebana (3 buah), rebana besar (1 buah), kecer (1 buah). Lagu yang dibawakan melantunkan syiar keislaman yang diambil dari Kitab Al Qur’an yang dikolaborasikan dengan bahasa jawa dan (saat ini) bahasa Indonesia.

Asal Kata SOYAR MAOLE

Menurut Bau Sastra Jawa Penerbit Kanisius

Soyar = ngandhakake kandhane wong lia (berdakwah)

Artinya : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah.

Maole dari kata mole = molor (bertambah panjang)

Maka SOYAR MAOLE diartikan : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah sampai waktu yang panjang atau terus menerus hingga agama berkembang luas.

Sumber lain mengatakan :

Soyar dari kata moyar = orang hidup yang berkeluyuran tanpa tujuan.

Maole dari kata maulud = lahir (kelahiran) disini dititik beratkan kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Maka SOYAR MAOLE berarti : orang hidup jangan hanya berkeluyuran, ingatlah apa yang dikatakan/diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Di Desa Kaligono khususnya di Dusun Jetis berkembang secara terorganisasi mulai tahun 1925. Yang kemudian diberi nama Organisasi Kesenian SOLAWATAN SOYAR MAOLE KARANG BINANGUN.

KESENIAN DOLALAK

Asal mula kesenian dolalak adalah akulturasi budaya barat (Belanda) dengan timur (Jawa). Pada jaman Hindia Belanda Purworejo terkenal sebagai daerah / tempat melatih serdadu / tentara. Sebagaimana tentara pada jamannya, mereka berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Purworejo saja dan dilatih oleh tentara/militer Belanda. Mereka hidup di tangsi / barak tentara.
Ketika mereka hidup di tangsi tersebut, maka untuk membuang kebosanan mereka menari dan menyanyi saat malam hari, ada pula yang melakukan pencak silat dan dansa. Gerakan dan lagu yang menarik kemudian menjadi inspirasi pengembangan kesenian yang sudah ada yaitu rebana (kemprang) dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desa Trirejo Kecamatan Loano yaitu :
1. Rejo Taruno
2. Duliyat
3. Ronodimejo
Ketiga orang tersebut bersama dengan warga masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk grup kesenian. Awalnya pertunjukan kesenian tersebut tidak diiringi instrumen, namun dengan lagu-lagu vokal yang dinyanyikan silih berganti oleh para penari atau secara koor. Perkembangan berikutnya setelah dikenal dan digemari oleh masyarakat, pertunjukan kesenian ini diberi instrumen/iringan dengan lagu-lagu tangsi yang terasa dominan dengan notasi do-la-la. Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak.
Busana yang dikenakan oleh penarinya terpengaruh nuansa pakaian serdadu Belanda. Ini dapat kita lihat dari baju lengan panjang dan celana tanggung dengan warna gelap/hitam, pangkat atau rumbai di bahu dan dada, topi pet dan kaca mata hitam. Sampur dipergunakan sebagai pelengkap busana, yang merupakan kebiasaaan orang Jawa dalam melakukan kegiatan menari yang selalu menggunakan sampur/selendang.
Adapun penyebaran tari Dolalak ini dimulai dari Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, kemudian “merembes” ke wilayah sekitarnya.
Dolalak biasanya disajikan semalam suntuk yaitu antara 4 hingga 6 jam dengan jumlah penari yang banyak (tari kelompok) dan pada puncak pertunjukan salah satu penarinya akan trance (mendem) yaitu adegan dimana penari akan melakukan gerak-gerak di luar kesadarannya. Sajian Dolalak membutuhkan tempat yang luas karena berupa tari kelompok. Sajian Dolalak menampilkan beberapa jenis tarian yang tiap jenis dibedakan dengan perbedaan syair lagu yang dinyanyikan dengan jumlah 20 sampai 60 lagu dan tiap pergantian lagu berhenti sesaat sehingga ada jeda tiap ragam geraknya.
Hingga saat ini pengembangan tarian tradisional Dolalak tidak saja di kelompok tari/grup. Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pembinaan dan pelatihan hingga sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Purworejo. Bahkan telah dipentaskan secara massal oleh siswa pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Alun-alun Purworejo dan seluruh Kecamatan se-Kabupaten Purworejo dengan jumlah peserta 2.100 anak di Alun-alun dan sekitar 16.000 siswa di semua kecamatan.

Selasa, Juli 06, 2010

Merayakan Budaya Panginyongan Di Banyumas

Tentang asal-usul Banyumas. Tri Atmo (70), wartawan sepuh dan penyiar Radio Tunggul Purbalingga, punya catatan menarik dalam buku Mengenal Purbalingga, Banyumas (1993) dan Kilas Sejarah Purbalingga-Banyumas (2008). Menurut dia, Banyumas sekarang bermula dari Kadipaten Wirasaba.

Daerah itu menjadi taklukan zaman Majapahit, kemudian Kerajaan Pajang. Di sini, kemudian berdiri Kadipaten Banyumas tahun 1582 dan masuk dalam kekuasaan Kerajaan Mataram dan kemudian Kasunanan Surakarta. Seusai pemberontakan Pangaren Diponegoro tahun 1830, kabupaten ini masuk dalam kekuasaan Belanda dan ditetapkan sebagai karesidenan.

”Lama sekali Banyumas jadi daerah taklukan,” kata Tri Atmo.

Menurut budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, posisi sebagai daerah taklukan membuat Banyumas terpinggirkan. Istilahnya, adoh ratu, cedhek watu: jauh dari keraton, lebih dekat dengan batu atau alam pedesaan. ”Wilayah ini berkembang sepenuhnya dalam budaya wong cilik,” katanya.

Menggeliat dalam kultur pertanian, masyarakat di sini menjadi lebih terbuka dan tanpa kelas alias egaliter. Tak mementingkan sopan santun berlebihan, perilaku dan bahasanya cenderung cablak, apa adanya. Karakter semacam itu mirip Bawor, tokoh bayangan Semar, dalam gagrag Banyumasan. Sosok ini selalu diceritakan sebagai orang yang jujur, lugas, dan tak bersembunyi di balik kata-kata yang dilembut-lembutkan, eufimisme.

Kar esidenan Banyumas itu terus berkembang dengan wilayah mencakup Kabupaten Banyumas (dengan ibu kota Purwokerto), Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap. Saat Indonesia merdeka, kawasan ini masuk Provinsi Jawa Tengah.

Hanya saja, pada masa Orde Lama dan kemudian Orde Baru, budaya wong cilik itu juga masih tertekan. Di bawah kekuasaan Orde Baru yang berorientasi feodal Jawa keraton, rakyat Banyumas diremehkan dengan sebutan ”wong ngapak-ngapak”. Bahasanya yang ngoko, banyak berakhiran ”a”, serta terdengar kasar dan medhok itu dipandang lebih rendah ketimbang bahasa Jawa halus keraton seperti di Solo dan Yogyakarta.

Terlebih, bahasa ”ngapak-ngapak” itu juga dipakai pelawak di televisi sebagai bahan tertawaan. Semua itu semakin mendorong budaya rakyat itu terpuruk. ”Saking mindernya, sebagian orang Banyumas sendiri menyembunyikan budaya aslinya. Dengan segala cara, mereka mendekatkan diri pada budaya Jawa keraton,” kata Tohari, yang juga pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Berubah

Reformasi tahun 1998 mengubah peta politik Indonesia menjadi lebih terbuka. Kebebasan yang menyeruak bersamaan dengan laju otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah secara langsung pelan-pelan menerbitkan kepercayaan diri masyarakat di daerah, termasuk Banyumas. Sejak awal tahun 2000-an, meletup gairah untuk membangkitkan kembali budaya lokal.

Muncul beberapa paguyuban yang terang-terangan menghidupkan kembali budaya Banyumasan. Sebut saja, antara lain, kelompok Serulingmas (Seruan Eling Banyumas), Paguyuban Kerukunan Keluarga Banyumas (KKB), Pakudimas (Paguyuban Keluarga Dialek Banyumas), Yayasan Sendang Mas, atau Keluarga Mahasiswa Banyumas.

”Semua kelompok itu, baik yang bermarkas di sini atau di kota lain, berusaha membangun kembali budaya enyong wong Banyumas,” kata Tohari. Dia sendiri menerjemahkan beberapa novelnya dalam bahasa Banyumas dan menjadi pemimpin redaksi majalah berbahasa Banyumas: Ancas, Kalawerta Panginyongan.

Kemajuan teknologi dan informasi dimanfaatkan kaum muda untuk mengukuhkan rasa percaya diri pada budaya lokal. Beberapa radio menghidupkan siaran berbahasa lokal, sejumlah penggiat dunia maya membuat blog Banyumasan di internet. Kelompok yang melek video memproduksi film independen yang merekam kehidupan rakyat.

”Kehadiran kelompok-kelompok pembuat film tahun 2000-an, dan kemudian Festival Film Purbalingga sejak tahun 2007 turut memperkokoh barisan penggiat budaya Banyumas,” kata Dimas Jayasrana, programmer Festival Film Purbalingga, yang merintis pembuatan film lokal Banyumas.

Film-film lokal di situ memang akhirnya berwajah sangat Banyumas. Tak hanya mengangkat kehidupan, problem, dan lingkungan lokal, mereka tak sungkan-sungkan merayakan bahasa ”ngapak-ngapak”. Ini tentu menyempal dari wajah seragam film nasional yang kekota-kotaan atau tayangan sinetron di televisi yang mengumbar kemewahan.

”Lewat film, kami menjadi merasa percaya diri sebagai wong Banyumas,” kata Amrizal (15), penggiat film dari SMA I Bogasari, Purbalingga.

Kerakyatan

Kini, masyarakat setempat terus mengentalkan jati dirinya sebagai wong Banyumas. Dalam proses itu, mereka memperoleh hal-hal positif yang dulu tenggelam.

Bahasa ”ngapak-ngapak” yang sempat dicap rendah itu, misalnya, ternyata sebenarnya justru merupakan bahasa Jawa yang lebih asli. Menurut Budiono, dalam buku Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak (LKIS, 2008), bahasa itu termasuk Jawidwipa atau bahasa Jawa masa awal.

Bahasa itu masih mempertahankan akhiran vokal ”a”, mirip lafal aksara hanacaraka. Konsonan diucapkan dengan tajam dan tegas. Kosakatanya tak banyak mengenal kelas, lebih berkisar pada ngoko lugu.

Ini berbeda dengan bahasa Jawa Solo dan Yogyakarta yang berakhiran ”o”. Bahasa yang dicap adiluhung ini adalah bahasa bandhekan, hasil perkembangan lanjutan dari bahasa Jawa asli. ”Bahasa ini tumbuh pada zaman Kerajaan Pajang (abad ke-16),” catat Budiono.

Gairah kebangkitan budaya Banyumasan akhirnya membebaskan mereka dari kungkungan budaya keraton. Dengan perilaku dan bahasa yang egaliter, terbuka, dan apa adanya, mereka menemukan diri sebagai rakyat yang bersahaja. Ini berbeda dengan budaya keraton yang kompleks, penuh eufimisme, dan berkelas sosial yang rumit.

”Spirit budaya Banyumas itu sangat berorientasi pada kerakyatan. Ini modal baik yang bisa dimatangkan untuk membangun demokrasi di negeri ini,” kata Ro’fah Mudzakir, pengamat sosial asal Banyumas yang menjadi kandidat doktor di School of Social Work, Montreal, Kanada.

Senin, Juni 28, 2010

Budaya Unik dari Indonesia Termasuk Musik Indonesia

budaya Indonesia telah membentuk cara itu seluruh generasi antara itu kebiasaan adat dan tradisi asli dan beberapa pengaruh orang asing. Indonesia memainkan peran yang sangat penting yang tengah rute perdagangan antara Timur Jauh dan Timur Tengah yang telah menghasilkan banyak budaya dan banyak agama lain dan keyakinan.

Salah satu budaya yang luar biasa di Indonesia adalah unik seni negara-bentuk dan yang mengungkapkan kultur campuran. Ada pertunjukan boneka tradisional Indonesia yang sangat dipengaruhi terutama oleh Hindu dan Islam bahwa di antara penduduk desa Jawa. Budaya barat di sisi lain telah mempengaruhi Indonesia dengan fitur hiburan modern dan teknik seperti seni acara TV dan film bersama dengan lagu-lagu mereka. sistem politik mereka dipengaruhi terutama dari Barat itu.

Meskipun Indonesia telah dipengaruhi oleh banyak teman-teman asing, tempat-tempat terpencil banyak negara masih memiliki budaya yang unik dan cadangan negara, ritual, adat dan tradisi tua.

musik Indonesia telah menjadi bagian yang sangat besar dari masyarakat Indonesia sehingga peran yang sangat penting dalam setiap kehidupan Indonesia. Tari bersama dengan musik mereka juga telah menjadi bagian besar dari peradaban Indonesia. Ada banyak tarian tradisional yang sedang dimainkan dan dilakukan selama acara-acara khusus di beberapa tempat umum.

Selain tari dan musik Indonesia, drama Indonesia dan teater sedang dilakukan dalam acara Indonesia tertentu. Kinerja subyek dengan sejarah negara itu. Mereka benar-benar melakukan cerita rakyat dan bisa memainkan setiap karakter yang unik yang akan memberikan kehidupan terhadap kinerja.

Lukisan ini juga terkenal dengan Indonesia dan bahwa mereka sangat artistik dan rinci dengan warna-warni dan desain tradisional yang unik oleh orang Indonesia. Lukisan ini digunakan untuk menjadi latar belakang dari pertunjukan seni teater yang memberikan kehidupan untuk menampilkan.

Berikut adalah beberapa adat tradisional dan tradisi di belakang budaya Indonesia. Selama bertahun-tahun, kebudayaan mereka telah menyimpang dan banyak gaya dan teknik yang ditambahkan yang membuat budaya mereka lebih berwarna dan hidup. Ada banyak lagi yang bisa mengungkapkan dengan budaya Indonesia yang hanya ditemukan ketika salah satu adalah untuk menghubungkan dirinya dengan Indonesia dan mengenal mereka secara pribadi. Jadi mengunjungi negara yang indah ini kapan saja dan belajar lebih banyak tentang budaya hidup mereka dan cara hidup mereka.