Puluhan seniman sekitar Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar performa "Melebur Dosa Menganyam Cinta" sebagai ungkapan halal bihalal mereka dalam wujud ekspresi seni.
Mereka yang antara lain mengenakan berbagai properti seni antara lain tarian kontemporer "Jingkrak Sondang", tarian soreng dengan musik "truntung", pakaian adat Jawa, tabuhan "jedhor" pada Selasa malam itu berjalan kaki dari pertigaan Pasar Borobudur melewati Jalan Pramudya Wardani, Jalan Balaputra Dewa, dan berakhir di halaman Gandok Seni Budiarjo sekitar 500 meter timur Candi Borobudur.
Halaman pendopo Gandok Seni Budiarjo terlihat dihias dengan properti ratusan kelongsong ketupat yang membentuk hati dalam ukuran raksasa sebagai simbol cinta kasih, sedangkan puluhan kelongsong ketupat lainnya diletakkan di sejumlah tali yang dibentangkan di atas halaman itu.
Sejumlah properti lampion aneka warga diletakkan di beberapa tempat di halaman itu sehingga suasana terkesan artistik.
Prosesi dipimpin oleh Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Chusaeni, sedangkan seniman Merapi, Agus "Merapi" Suyitno, melakukan pentas ritual tolak balak.
Berbagai pementasan kesenian kontemporer, musik, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi kultum (Kuliah Tujuh Menit), dan undian bingkisan, serta pesta kuliner itu berlangsung hingga tengah malam dengan ditonton ratusan warga setempat, penggemar seni, dan budayawan, serta para pemudik terutama mereka yang berasal dari sekitar Candi Borobudur.
Terlihat pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Magelang, Dian Setya Dharma.
Mereka yang menggelar pementasan itu antara lain grup Topeng Saujana pimpinan Sujono, teater Gadung Mlati pimpinan Ismanto, musik oleh grup band Paku Wojo pimpinan Dedy Paw, penyair Dorothe Rosa Herliany, dan puisi sosialteatrikal oleh Gepeng Nugroho.
Budayawan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mengatakan, halal bihalal sebagai tradisi budaya masyarakat Indonesia saat Lebaran.
"Hanya ada di Indonesia, tidak ada di Malaysia, Iran, atau Timur Tengah," katanya.
Ia menyebut tradisi halal bihalal sebagai kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia yang hingga saat ini masih dijalankan masyarakat karena menjadi perekat hubungan antarmanusia saat Lebaran.
Ia menyebut agama tidak terlepas dari peranan kebudayaan setempat sehingga wujud pelaksanaan kehidupan beragama menjadi lebih manusiawi.
"Nilai-nilai kebudayaan membuat pengamalan hidup beragama lebih manusiawi," katanya.
Umar mengatakan, halal bihalal khas seniman Borobudur itu menjadi salah satu atraksi wisata malam pada musim Lebaran.
"Kami mengemas menjadi aset wisata, mereka yang hadir menyaksikan ini juga kalangan pemudik Lebaran," katanya.
Selain itu, katanya, kegiatan itu juga menjadi ekspresi seniman sekitar Borobudur saat merayakan Lebaran dan halal bihalal di antara mereka.
komunitas seni dan budaya mulai Sabang sampai Merauke, dari berbagai alat musik, tari, senjata tradisional untuk bentuk-bentuk adat dan budaya masyarakat
Selasa, September 28, 2010
Seniman Gelar "Melebur Dosa Menganyam Cinta"
Diposting oleh Unknown di 08.31 0 komentar
Kamis, September 16, 2010
Berwisata di Dieng
Berwisata ke Dieng selama masa Lebaran, bisa menenukan nuansa tersendiri yang berbeda dari daerah lain. Ribuan warga dari desa-desa di dataran tinggi tersebut selalu tumpah ruah memadati berbagai objek wisata yang ada di kawasan itu.
Meski sudah biasa menyaksikan daerahnya, warga lokal itu merasa gembira bermain dan menikmati suasana Lebaran di Dieng. Mereka berbondong-bondong bersama teman maupun keluarga datang ke tempat itu. Dengan menumpang mikrobus, pikap, sepeda motor, ataupun berjalan kaki.
Petani Marto (42 tahun) menyebutkan suasana Dieng pada masa Lebaran yang berlangsung sekitar satu minggu, jauh berbeda dari hari-hari biasa. Selama masa Lebaran, Dieng berubah menjadi hiruk pikuk. Justru suasana semacam itulah yang menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal.
Keramaian Lebaran itu oleh sejumlah kusir dokar di Kota Wonosobo dan pedagang keliling, dianggap sebagai peluang yang menggiurkan, sehingga mereka pun tak segan memindahkan dokar miliknya ke Dieng. Dokar beserta kudanya diangkut menggunakan truk.
Demikian halnya dengan para pedagang, mereka pun jauh hari sudah mendaftarkan diri untuk bisa berjualan di lokasi terminal mikrobus yang disulap menjadi pasar tiban.
Beberapa kusir dokar asal Mlipak mengaku, selama masa Lebaran, dirinya bisa meraup pendapatan yang relatif menggembirakan. Hal itu cukup untuk berlebaran bersama keluarga. Di Dieng, dokar melayani rute dari simpang tiga terminal ke objek wisata Telaga Warna, yang medannya datar. Para penumpang sebagian besar anak-anak dan warga lokal.
Agus, pedagang pakaian keliling, secara terpisah kepada Suara Merdeka, kemarin, mengatakan dirinya berjualan pakaian jadi untuk anak-anak dengan harga yang terjangkau. Konsumen yang dibidik adalah golongan masyarakat bawah. Dia mengaku, tingkat transaksi di pasar tiban Lebaran, cukup lumayan.
Hal senada juga diungkapkan beberapa pedagang bakso asal Wonosobo. Mereka juga meraup keuntungan besar saat berniaga di Dieng.
Label: wisata
Diposting oleh Unknown di 09.34 0 komentar
Jumat, September 10, 2010
Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders)
Kawasan hutan Pulau Nusa Gede dengan Luas kurang lebih 16 ha yang terletak di situ (danau), yaitu Situ Lengkong Panjalu berada di Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie) pada tanggal 21 February 1919 Nomor 6 (Staatsblad No.90). 2(dua) Tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 November 1921 diterbitkan dalam surat keputusan yang sama ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede (Island), selajutnya diberi nama "Pulau Kooders" dan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders".
Keadaan Vegetasi didalam Cagar Alam ini cukup beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya : Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus Variegata), Huru (Litsea sp), Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).
Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus Vampyrus), Biawak (Varanus Salvator) dan juga dapat ditemukan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur Indus), Raja Udang (Halcion chlors) dan Walik (Treron Griccipilla).
Keadaan topografi Situ Lengkong Panjalu yang merupakan danau dasar daripada danaunya sendiri kurang lebih berkisar 710 meter diatas permukaan laut, sedangkan pulau Nusa Gede yang merupakan kawasan Cagar Alam kurang lebih berkisar 733,14 meter dpl. Keadaan iklim di sekitar kawasan objek wisata ini, meliputi: suhu antara 19c - 32c, dengan kelembaban antara 70%-80%, kecepatan angin 4 s.d 5knots dan curah hujan rata-rata 3.145 mm per tahun.
Keadaan hidrologi khususnya keberadaan air Situ Lengkong Panjalu berasal dari air tanah yang ada pada hutan-hutan di sekitarnya, dan mata air yang terletak pada beberapa lokasi (kampung simpar:2 buah, bojongwaru:1 buah, ciater:1 buah dan kaum:1 buah).
Untuk mencapai ke lokasi ini, dapat ditempuh dari Kota Bandung dengan route :Bandung-Ciawi-Panjalu(Ciamis) yanng berjarak kurang lebih 95km, sedangkan dari Tasikmalaya dapat menggunakan route: Tasikmalaya-Rajapolah-Panumbangan-Panjalu(Ciamis) dengan jarak kurang lebih 40 km an dari Kota Ciamis berjarak sekitar 48 km.
Potensi objek dan daya tarik wisata yang banyak diminati pengunjung ke daerah ini yaitu, objek wisata Situ, Pulau Nusa Gede, Hutan Primer dan Makam Kramat. Tujuan utama pengunjung ke kawasan ini yang paling dominan yaitu untuk berziarah ke makam kramat. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis sebagai objek wisata ziarah. Kearifan lokal yang terdapat dikawasan tidak menjadikan kawasan Cagar Alam terganggu atas kehadiran pengunjung di kawasan ini.
Keberadaan kegiatan Perlindungan (konservasi) alam di Indonesia sangat berkaitan erat dengan nama Dr.S.H. Kooders (1863-1919) sebagai pendiri dan ketua pertama dari Nederlandsch Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming (perkumpulan perlindungan alam hindia belanda). Perkumpulan ini semacam perkumpulan pecinta alam yang mempelopori dan mengusulkan kawasan tertentu dan jenis tertentu, juga pembuat peraturan dan tulisan serta penelitian tentang perlindungan alam (jenis satwa dan tumbuhan).
Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda nenunjuk 55(limapuluh lima) lokasi Cagar Alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, suatu jumlah yang sangat mengagumkan dan sudah tentu perkembangan itu sangat memuaskan hati Dr.S.H. Kooders sebagai ketua dari Perlindungan Alam, diantara sekian banyak kawasan yang diusulkan sudah dinyatakan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument).
Dr.S.H. Kooders meninggal dunia pada tanggal 16 Nopember 1919 dan dimakamkan di Batavia-Jakarta. Dua tahun kemudian diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda tanggal 16 Nopember 1921 yang ditetapkan bahwa Pulau Nusa Gede di objek wisata Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis, selanjutnya diberi nama "Pulau Kooders" sedangkan Cagar Alamnya "Cagar Alam Kooders". (sumber:Pandji YK)
Label: cinta budaya sendiri, pariwisata, wisata
Diposting oleh Unknown di 23.52 0 komentar
Waduk Sermo Berkah Bagi Kulonprogo
Waduk Sermo yang terletak di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta, tampaknya semakin menarik perhatian. Terutama setelah diresmikan Presiden Soeharto, 20 November 1996. Apalagi kini debit air yang mengisi waduk sudah hampir sampai batas maksimum. Banyak orang datang, selain untuk rekreasi juga memancing ikan.
Sedangkan mereka yang berasal dari Perguruan Tinggi ingin belajar tentang bangunan fisik waduk. Sebuah jalan aspal melingkar memudahkan orang untuk menikmati pemandangan di sekitar waduk dari berbagai sudut pandang. Mereka yang senang olahraga dayung juga dapat berwisata sambil berlatih di waduk ini. Untuk mencapai waduk ini cukup mudah. Dari kota Wates hanya berjarak kurang lebih delapan kilometer. Tersedia kendaraan umum yang rutenya melalui Waduk Sermo.
Bila Anda berada di Candi Borobudur, untuk ke waduk itu dapat melalui jalan pintas yang aspalnya sudah hotmix melalui perbukitan Menoreh (selatan Candi Mendut ke Timur). Jarak dari Borobudur kurang lebih 60 kilometer. Sebelum menuju ke Waduk Sermo, di pebukitan Menoreh ada tempat wisata seperti puncak Suroloyo, Sendangsono dan makam pahlawan Nyi Ageng Serang. ''Banyak obyek wisata Kulonprogo yang layak dikunjungi di perbukitan Menoreh, sebelum ke Waduk Sermo,'' kata mantan Kahumas Kulonprogo, Drs Djuwardi di Waduk Sermo, beberapa waktu lalu kepada Republika.
Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi -- 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau.
Waduk Sermo diharapkan mengaliri sawah seluas 8.100 hektar yang berada di wilayah Kulonprogo bagian barat dan selatan. Selama ini, air irigasi diambilkan dari Kali Progo yang dinaikan melalui saluran Kalibawang dan Sapon (Brosot). Kedua irigasi ini dialirkan untuk lahan yang ada di wilayah timur laut dan tenggara. Namun tidak sepanjang tahun air Kali Progo dapat dialirkan melalui kedua saluran irigasi tersebut.
Bukan hanya irigasi saja. Waduk yang mempunyai luas genangan air seluas 157 hektar dan 25 juta meter kubik air dapat digunakan sebagai tempat memelihara ikan bagi warga setempat melalui keramba apung. Menurut Kades Hargowilis, Widianto, warganya akan mengelola keramba apung ini melalui koperasi. Jumlah keramba yang bisa dibuat di waduk ini 100 keramba. Satu karamba diperkirakan menghasilkan ikan air tawar 2,5 ton selama empat bulan. Pada awal dibangun, harga satu kilogramnya Rp 2.000, maka bisa menghasilkan uang Rp 5 juta. Sedang biaya untuk bibit dan pakan saat itu hanya membutuhkan dana Rp 330.000 per keramba. Jadi petani diuntungkan.Apalagi sekarang.
Pada peresmian lalu, Dinas Perikanan DIY telah menabur benih ikan sebanyak satu juta ekor. Diharapkan bibit ikan ini akan menjadi besar dan dapat diambil warga setempat secara gratis dengan pancing. Selain itu, waduk Sermo ini akan memberi manfaat bagi cabang olahraga dayung. Waduk yang mempunyai panjang dua kilometer cukup memadai untuk latihan olahraga dayung.
Banyaknya pengunjung waduk tampaknya tidak disia-siakan penduduk setempat. Mereka menjajakan buah-buahan Desa Hargowilis dan Hargorejo termasuk daerah penghasil buah durian, manggis dan buah-buahan lainnya. Menurut Dr Ir Fatchan Nurrochmat M.Agr, konsultan lingkungan Waduk Sermo, sangat banyak manfaat waduk tersebut. Tidak hanya warga yang berada di hilir waduk, tetapi juga warga yang di hulu. Waduk ini, jelas Nurrochmat, akan menjadi distributor air bagi wilayah Kulonprogo. Bahkan dapat mengurangi banjir yang sering terjadi di daerah Kulonprogo bagian selatan. Terutama daerah yang termasuk aliran sungai Serang.
Alhasil waduk ini tampaknya telah menjadi berkah baru bagi Kulonprogo. Setelah puas melihat Waduk Sermo, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Glagah Indah atau Congot. Di dua pantai ini sudah ada jalan beraspal yang terletak di pinggir pantai. Mereka yang menggunakan kendaraan sendiri dapat mencapai pantai dengan mudah. Pantai Glagah sudah dilengkapi dengan hotel. Di dekat pantai Glagah juga ada tempat wisata Girigondo yaitu tempat pemakaman raja-raja Pakualaman.
Label: cinta budaya sendiri, pariwisata, wisata
Diposting oleh Unknown di 23.49 0 komentar
Selasa, Januari 26, 2010
Macam Wisata Budaya Tulungagung
1. Upacara Jamasan Kyai Upas
Kyai Upas adalah nam pusaka Kabupaten Tulungagung secara turun temurun diakui sebagai lambang kebesaran. Pusaka ini setiap tahun pada hari Jum’at Legi di bulan Suri (Muharam) dimandikan secara sakral.
Upacar ini dimulai dengan arak-arakan dari Pendopo Kabupaten, menuju Pendopo Kanjengan. Sesampainya di Kanjengan di sambut dengan gamelan monggang. Upacara jamasan dengan profesi tertentu dengan beraneka ragam sesaji. Setelah jamasan diadakan beberapa hiburan diantaranya tembang mocopat, wayang kulit dan kesenian tradisional lainnya.
2. Suru Wekasan
Suro Wekasan adalah upacara “laku” yang dilaksanakan masyarakat Wajak yaitu laku menelusuri Candi Dadi berdoa untuk keselamatan diri, keselamatan lingkungan, sampai keselamatan bangsa dan negara. Keistmewaan upasara ini adalah dilakukan oleh berbagai pemeluk agama yang dianut masyarakat Wajak (Islam, Kristen, Budha)untuk berdoa menurut agama serta keyakinan masing-masing dikomplek Candi Dadi. Upacara ini dilakukan setiap akhir bulan suro.
3. Tematen Kucing
Upacara ini dilaksanakan di air terjun Cuban Rondo yang di yakini dapat melancarkan aliran mata air di Cuban Rondo untuk irigasi penduduk Pelem dan sekitarnya. Proses ini dilakukan dengan subyek dua ekor kucing (Tirta Sari dan Joko Wono) dikawinkan dengan prosesi lazimnya manusia menjadi temanten. Mbah Sangkrah orang yang pertama melaksanakan ritual ini dilanjutkan M bah Sutomeja sampai sekarang.
4. Labuh Sembonyo
Labuh Sembonyo yang diyakini masyarakat sebagai wahana “asok glondhong pengareng-areng” terhadap Ratu Kidul penguasa laut selatan Labuh Sembonyo diselenggarakan etiap bulan Suro minggu kedua di Pantai Popoh.
5. Ulur-ulur
Ulur-ulur merupakan upacara adat yang di selenggarakan di telaga Buret setiap tahun pada hari Jum’at Legi bulan Suro. Kegiatan pokok adalah memandikan arca Dewi Sri Sedono dan tabur bunga di Telaga Buret petilasan Eyang Jigang Joyo dalam mitos sebagai seorang tokoh perintis pemanfaatan air telaga Buret untuk pertanian di Desa Sawo, Gedangan, Ngentrong dan Gamping. Pada upacara tersebut ada kegiatan “Ngelampet” yaitu membendung air telaga yang dilaksanaka dengan gotong-royong untuk irigasi. Cultur ini masih melekat dimasyarakat Sawo dan sekitarnya sampai sekarang berupa kegiatan gugur gunung dan bersih desa.
© http://wisatatulungagung.indonesiatravel.biz/wisata-dan-budaya/macam-wisata-budaya/
Label: wisata
Diposting oleh Unknown di 10.26 0 komentar