Songket Melayu sebuah karya seni yang indah, selayaknyalah kita menjaga dan melestarikannya. Sebagai generasi muda Pekanbaru Riau kita harus melakukan hal itu. Janganlah terlena dengan tren zaman dengan memakai baku yang tak cukup bahannya alias berdiri nampak pusat dan ketika duduk nampak belahan dadanya. Kali ini saya menyegarkan ingatan kita terhadap Songket Melayu Pekanbaru Riau, dengan cara menghadirkan kembali artikel tentang Songket Melayu yang pernah di publis di blog Attayaya
Tenunan yang lazim di sebut songket itu dalam sejarah yang panjang telah melahirkan beragam jenis motif, yang mengandung makna dan falsafah tertentu. Motif-motif yang lazimnya di angkat dari tumbuh-tumbuhan atau hewan (sebagian kecil) di kekalkan menjadi variasi-variasi yang serat dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai asas kepercayaan dan budaya melayu.
Selanjutnya, ada pula sebagian adat istiadat tempatan mengatur penempatan dan pemakaian motif-motif di maksud, serta siapa saja berhak memakainya. Nilainya mengacu kepada sifat-sifat asal dari setiap benda atau makhluk yang dijadikan motif yang di padukan dengan nilai-nilai luhur agama islam. Dengan mengacu nilai-nilai luhur yang terkandung di setiap motif itulah adat resam tempatan mengatur pemakaian dan penempatannya, dan menjadi kebanggaan sehingga diwariskan secara turun temurun .
Orang tua-tua menjelaskan bahwa kearifan orang melayu menyimak islam sekitarnya memberikan mereka peluang besar dalam memilih atau menciptakan motif. Hewan yang terkecil seperti semut, yang selalu bekerja sama mampu membuat sarang yang besar, mampu mengangkat barang-barang yang jauh lebih besar dari badannya, dan bila bertemu selalu berangkulan, memberi ilham terhadap pencintaan motif untuk mengabadikan perihal semut itu dalam motif tersebut sehingga lahirlah motif yang dinamakan motif semut beriring.
Begitu pula halnya denagn itik yang selalu berjalan beriringan dengan rukunnya melahirkan motif itik pulang petang atau itik sekawan. Hewan yang selalu memakan yang manis dan bersih (sari bunga), kemudian menyumbangkannya dengan mahkluk lain dan bentuk madu dan selalu hidup berkawan-kawan dengan damainya melahirkan pula motif lebah bergantung atau lebah bergayut.
Bunga-bungaan yang indah, wangi dan segar melahirkan motif-motif bunga yang mengandung nilai dan filsafah keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian seperti corak bunga setaman, bunga berseluk daun dan lain-lain. Burung balam, yang selalu hidup rukun dengan pasangannya, melahirkan motif balam dua setengger sebagai cermin dari kerukunan hidup suami istri dan persahabatan. Ular naga, yang di mitoskan menjadi hewan perkasa penguasa samudra, melahirkan motif naga berjuang serindit mencerminkan sifat kearifan dan kebijakan. Motif puncak rebung dikaitkan dengan kesuburan dan kesabaran. Motif awan larat dikaitkan dengan kelemah-lembutan budi, kekreatifan, dan sebagainya.
Dahulu setiap pengrajin diharuskan untuk memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif. Keharusan itu dimaksudkan agar mereka pribadi mampu menyerat dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, mampu menyebarluaskan, dan mampu pula menempatkan motif itu sesuai menurut alur dan patutnya. Karena budaya melayu sangat ber-sebati dengan ajaran islam, inti sari ajaran itu terpateri pula dengan corak seperti bentuk segi empat dikaitkan dengan sahabat Nabi Muhammad SWT yang berempat, bentuk segi lima dikaitkan dengan rukun islam, bentuk segi enam dikaitkan dengan rukun iman, bentuk wajik dikaitkan dengan sifat Allah yang maha pemurah, bentuk bulat dikaitkan dengan sifat Allah yang maha mengetahui dan penguasa alam semesta, dan sekitarnya. Menurut orang tua melayu Riau, makna dan falsafah di dalam setiap motif, selain dapat meningkatkan minat-minat orang untuk menggunakan motif tersebut, juga dapat menyebar-luaskan nilai-nilai ajaran agama Islam yang mereka anut, itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak.
Orang-orang melayu amatlah menggemari pantun. Orang tua-tua mengatakan bahwa dengan berpantun orang lebih cepat menyimak dan mengingatkan sehingga lebih mudah mewariskannya.
Ungkapan adat mengatakan : ”di dalam pantun banyak penuntun”. selanjutnya di katakannya:
”Bertuah orang berkain songket
Coraknya banyak bukan kepalang
Petuahnya banyak bukan sedikit
Hidup mati di pegang orang”
”Kain songket tenun melayu
Mengandung makna serta ibarat
Hidup rukun berbilang suku
Seberang kerja boleh di buat”
”Bila memakai songket bergelas
Di dalamnya ada tunjuk dan ajar
Bila berteman tulus dan ikhlas
Kemana pergi tak akan terlantar”
Khasanah songket melayu amatlah kaya dengan motif dan serat dengan makna dan falsafahnya, yang dahulu dimanfaatkan untuk mewariskan nilai-nilai asas adat dan budaya tempatan. Seorang pemakai songket tidak hanya sekedar memakai untuk hiasan tetapi juga untuk memakai dengan simbol-simbol dan memudahkannya untuk mencerna dan menghayati falsafah yang terkandung di dalamnya. Kearifan itulah yang menyebabkan songket terus hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan mereka sehari-hari.
komunitas seni dan budaya mulai Sabang sampai Merauke, dari berbagai alat musik, tari, senjata tradisional untuk bentuk-bentuk adat dan budaya masyarakat
Senin, Januari 25, 2010
Seni Tenun Songket Melayu Pekanbaru Riau
Label: alat musik, cinta budaya sendiri
Diposting oleh Unknown di 15.23 0 komentar
Toraja, zamrud di katulistiwa
Ini cerita ringkas dari perjalanan wisata ke Sulawesi Selatan. Mendarat di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, jam satu siang. Terminal bandara itu tampak megah, modern, atapnya selain menjulang tinggi, dikelilingi oleh dinding kaca maka serba transparan. Ketika berada di dalamnya, kita bisa merasa seperti di salah satu bandara di luar negeri.
Program terbaik adalah menginap satu malam di kota Makassar dan menikmati suasana kota sore hari hingga matahari terbenam. Tentu saja ke pantainya yang terkenal : Losari. Esoknya, berangkat jam 8 pagi menuju Tator, singkatan Tana Toraja. Siapa saja yang disapa, sikap ramah akan kita terima. Sulsel memang merupakan salah satu DTW, Daerah Tujuan Wisata, dengan kata lain, merupakan satu di antara untaian zamrud di katulistiwa. Sebutan itu pernah menjadi tag line untuk pariwisata Indonesia ketika berpromosi ke mancanegara, di tahun 1980an.
Sejak dahulu sampai sekarang, jarak 328 KM dari Makassar ke Rantepao, kota kabupaten Tana Toraja, ditempuh antara tujuh sampai delapan jam. Meliwati kota pantai Pare-pare. Saat ini, sepanjang jalan raya dari Makassar sampai Parepare sedang dalam pengerjaan up grading, aspal diganti lapisan beton, tampaknya akan rampung sekitar pertengahan tahun ini. Dapatlah diperkirakan perjalanan akan menjadi lebih singkat, boleh jadi bisa ditempuh sekitar lima jam.
Jarak tempuh dengan mobil lebih tujuh jam itu, selama ini tetap saja dinikmati oleh para wisman. Tana Toraja dengan budaya yang etnik khas, pernah menarik banyak wisman datang dari ujung-ujung dunia di Eropa dan Amerika. Jauh lebih banyak dari sekarang ini. Ya, di masa lalu itu para wisman dari negeri Baratlah yang kebanyakan ditarik oleh magnit Tator. Ketika sama sekali belum ada tempat persinggahan yang ”representative” untuk istirahat atau makan siang, diperjalanan tadi, maka grup wisatawan dalam bus turis disediakan lunch box. Mereka tetap enjoy.
Nah, ketika tiba di Tator, sebelum atau sesudah masuk kota kecil Rantepao, terdapat beberapa hotel berbintang. Hotel non-bintang atau penginapan kecil terdapat lebih banyak. Sore hari pertama sampai malam, wisatawan menikmati kesejukan udara, lingkungan yang rindang, di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Esok harinyalah kesempatan berkeliling menghampiri kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Objek wisata pertama, ke desa Palawa. Satu kawasan rumah-rumah adat Toraja, kita lihat ibarat museum hidup. Sederetan rumah adat Toraja, yang berbaris berhadap-hadapan mengelilingi suatu tanah lapang, rumah-rumah itu ditempati oleh penduduk, dan kehidupan dengan adat asli mengalir di situ entah sejak berapa ratus tahun yang lalu.
Penghuni rumah-rumah adat itu akan beramah tamah dengan pengunjung, menceritakan riwayat adat mereka, dan akan menjawab pertanyaan yang diluncurkan oleh hati dan pikiran pengunjung yang niscaya akan penuh ‘curiosity’.
Dari Palawa, usai bercengkerama dan usai mengabadikan dengan kamera tampilan rumah-rumah adat yang atapnya mengerucut menjulang ke langit, kunjungan berikutnya menuju ke desa lain, namanya Londa. Lokasi ini pun seakan magnit yang menarik keingintahuan pengunjung. Itulah perbukitan, yang rimbun menghijau, dan persis di lokasi yang telah menjadi objek wisata itu, sentuhan kepariwisataan memang semakin terasa.
Di bukit Londa, tradisi masyarakat Tator dilaksanakan, di mana keluarga yang telah almarhum, dibuatkan patung yang menampilkan wajah dan postur semasa hidup, lalu patung tersebut ditempatkan di lereng perbukitan Londa, dan goa-goa yang terdapat di bawahnya.
Pengunjung niscayalah ingin memasuki goa. Karena gelap, sekitar 15an orang muda bersiap dengan masing-masing lampu petromaks di tangan mereka. Sewanya Rp 20.000. Tapi jika ingin ditemani sekaligus berfungsi guide, untuk “tur ke dalam gua” maka tips untuk fungsi guide ini ”tidak ada tarif”. Terserah pengunjung.
Berkeliling dan mengapresiasi kehidupan dengan adat istiadat masyarakat Tator, setidaknya bisa dihayati dengan menginap dua malam di kawasan ini. Namun sebagian wisman dari negeri Barat selama ini mengapresiasi kehidupan di Tator dengan tinggal dua sampai tiga hari. Bahkan ada yang lebih lama lagi. Manakala Indonesia dilanda krisis ”image” di pasar internasional, berkaitan isyu keamanan keselamatan sebagai dampak rentetan peristiwa bom teroris, peristiwa Mei 1998 dan seterusnya, kunjungan wisman ke Tator memang anjlok.
Kini saatnya sungguh tepat untuk bangkit kembali. Dimulai dari tersedianya infrastruktur bandara yang megah, dan tak lama lagi, jalan raya lebih mulus dari Makassar hingga Tator.
© http://traveltourismindonesia.wordpress.com/2010/01/25/toraja-zamrud-di-katulistiwa/
Label: artikel
Diposting oleh Unknown di 15.19 0 komentar
Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin.
Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. DPRD Kalsel dengan surat keputusan No. 2 Tahun 1989 tanggal 31 Mei 1989 menetapkan 14 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Tanggal 14 Agustus 1950 melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 1950, merupakan tanggal dibentuknya sepuluh provinsi, setelah pembubaran RIS, salah satunya provinsi Kalimantan dengan gubernur Dokter Moerjani
TARIAN DAERAH
1.Tari Randap Rahayu
2.Tari Baksa Kembang
3.Tari Banjar Topeng
4.Tari Banjar Topeng Wayang
5.Tari Banjar Topeng Kelana
ADAT ISTIADAT
Dayak ;
Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.
Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.
Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.
Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.
menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu.
masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat),Jobata,Apet Kuyan'gh(Dayak Mali) dan lain-lain. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman.
Segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.
Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.
Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani.
© http://myzamrud.blogspot.com/2010/01/kalimantan-selatan.html
Label: artikel
Diposting oleh Unknown di 15.04 0 komentar
Minggu, Januari 17, 2010
Perubahan Melalui Membaca
Change with Reading (CwR). Itulah tema serangkaian acara untuk menularkan budaya baca yang digelar di Rumah Dunia, Serang, organisasi non-pemerintah untuk pendidikan informal yang didirikan oleh pengarang Gola Gong, pada 9 Januari 2010. Bertujuan menyadarkan masyarakat akan betapa pentingnya membaca, acara itu diisi antara lain dengan pemilihan Duta CwR dari kalangan pelajar SMA se-Provinsi Banten, dan diskusi tentang budaya baca bersama pembicara antara lain Ella Yulaelawati MA, PhD (Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional) dan Endang Eko Koswara (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten).
Change with Reading, yang berarti perubahan melalui membaca, adalah tema yang memiliki pesan mendalam tentang pengaruh penting membaca untuk transformasi nilai, salah satunya dalam bentuk perubahan. Perubahan bisa berarti positif atau negatif. Dan tentu, dalam hal penularan virus budaya baca, pengertian perubahan itu adalah perubahan yang positif. Peristiwa pendidikan di Rumah Dunia ini, meskipun hanya diikuti sekitar 100 siswa SMA, tetaplah layak diapresiasi. Di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang budaya bacanya relatif masih rendah, segala upaya untuk mendongkrak budaya baca tentulah bernilai.
Budaya baca ini penting untuk ditekankan karena membaca merupakan salah satu pintu menuju perubahan dan pemberdayaan diri. Adapun kegiatan membaca, yang bisa ikut berperan dalam perubahan sosial, tak membedakan status sosial-ekonomi masyarakat. Sebuah studi yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (Organization for Economic Cooperation and Development, OECD) melalui program yang disebut Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2006 menunjukkan bahwa remaja dari berbagai kalangan-termasuk dari latar belakang yang paling kurang mampu- dapat lebih cemerlang dari teman-teman sebaya mereka yang lebih kaya jika mereka secara teratur membaca buku-buku, surat kabar, dan komik di luar sekolah. Juga menurut laporan studi “Membaca untuk Perubahan “pada 2007, ditemukan secara signifikan bahwa mendorong membaca untuk kesenangan bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mewujudkan perubahan sosial.
Temuan lain mengungkapkan bahwa siswa yang sangat terlibat dalam membaca terbukti secara signifikan dapat mencapai nilai di atas skor rata-rata internasional, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga mereka. Hal ini membuktikan bahwa walaupun latar belakang sosio-ekonomi sangat berperan, bukan berarti dapat menjadi faktor dominan dalam memprediksi keterlibatan membaca bahan bacaan yang beragam. Penelitian juga menemukan bahwa ketersediaan bahan bacaan di rumah sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak. Anak yang memiliki akses ke sejumlah besar buku cenderung lebih tertarik untuk membaca secara meluas.
Sayangnya, studi OECD-PISA pada 2006 menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Indonesia-mencapai skor 392- masih jauh di bawah kemampuan rata-rata negara-negara OECD, yang mencapai skor 492. Laporan menyangkut budaya baca masyarakat Indonesia ini hanyalah rangkaian riset kesekian yang masih menunjukkan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia masih lemah. Karena itu, dalam hal kemampuan membaca ini, Indonesia harus melongok ke negara-negara lain yang mencapai skor tinggi. Siapa mereka? Skor tertinggi dipegang oleh Korea (556). Berikutnya adalah Finlandia (547), Hong Kong-Cina (536), Kanada (520), dan Selandia Baru (530).
Mengapa minat baca masyarakat di Indonesia dinilai masih rendah? Hari Karyono, dosen pascasarjana Universitas PGRI Adibuana Surabaya, yang pernah melakukan studi dalam hal ini, mengungkapkan sejumlah faktor (sumber libra-ry.um.ac.id, Oktober 2007). Antara lain, masih rendahnya kemahiran membaca siswa di sekolah. Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya, dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas, 2 Juli 2003).
Faktor lain, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, serta mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra, dan lain sebagainya. Hal ini karena sistem pendidikan kita mengarah ke ujian akhir. Semua pelajaran ditujukan untuk menyiapkan siswa menghadapi ujian akhir. Alhasil, sedikit sekali rangsangan untuk membaca buku tambahan.
Faktor budaya juga berpengaruh. Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, dan adat-istiadat secara verbal yang di kemukakan orang tua. Anak-anak didongengi secara lisan. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi, sebagian masyarakat Indonesia tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.
Faktor lain, kurangnya sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan. Hal ini berkaitan dengan daya beli masyarakat yang masih rendah. Minimnya koleksi buku di perpustakaan, serta kondisi perpustakaan yang tidak memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca pengunjung yang memanfaatkan jasa perpustakaan, juga menjadi faktor.
Yang perlu digarisbawahi, Hari Karyono menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat adalah belum adanya lembaga atau institusi yang secara formal khusus menangani minat baca. Program menumbuhkan minat baca hanya dilakukan secara sporadis oleh LSM, organisasi pencinta buku, organisasi penerbit, dan lain sebagainya, yang tidak terkoordinasi. Sehingga, walaupun potensi sumber daya manusianya ada, mereka belum menjadi kekuatan yang secara sinergis menjadi instrumen yang efektif untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.
Kritik untuk pemerintah ini perlu didengarkan. Secara perundang-undangan, dorongan pemerintah untuk meningkatkan budaya baca sudah cukup memadai. Namun kritik Hari Karyono itu semoga segera menjadi masa lalu. Sebab, Direktorat Pendidikan Masyarakat sekarang ini melakukan berbagai gebrakan untuk mendongkrak budaya baca masyarakat, antara lain melalui upaya penerbitan Koran Ibu- program yang inovatif-yang bertujuan menjaga keberlanjutan kemampuan baca para aksarawan baru. Upaya lain, melalui pemberian penghargaan bagi pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Taman Bacaan Masyarakat yang kreatif. Belakangan bahkan Taman Bacaan Masyarakat itu diharapkan tak hanya kreatif, tapi juga rekreatif alias mampu membuat masyarakat “bergairah hidup dan membaca”. Buku Panduan TBM kreatif pun telah diluncurkan. Persoalannya, semua program yang inovatif itu juga membutuhkan dukungan dan pengawasan masyarakat. Di sinilah sinergi antar-masyarakat, baik secara individu maupun organisasi semacam Rumah Dunia, perlu terus dikembangkan. *
© http://arahguru.wordpress.com/2010/01/17/perubahan-melalui-membaca/
Label: artikel
Diposting oleh Unknown di 17.22 0 komentar