Rumah Si Waluh Jabu
Upacara memanggil arwah, merupakan suatu ritual yang terdapat di suku Batak Karo, Sumatera Utara yang menganut agama Perbegu (animisme). Prosesi yang berdaya magis ini belakangan ini jarang dilakukan, di samping karena biaya tinggi, juga akibat pengaruh agama besar yakni Islam maupun Kristen yang melarang umat melakukan prosesi ini. Ritual memanggil arwah atau Perumah Begu yang cukup dan secara bersambung selama sepekan dilaporkan wartawan Pos Kota Masana Ginting.
Ratap tangis memilukan sayup-sayup terdengar dari satu rumah Si Waluh jabu, di desa terpencil yang terletak di sebelah timur Kecamatan Munte, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Rumah Si Waluh Jabu merupakan rumah adat Karo yang kini nyaris punah.
Di sebut rumah Si Waluh Jabu, Karena rumah adat beratap ijuk dengan hiasan kepala kerbau di ujung atap, sama sekali tanpa menggunakan paku, dihuni delapan (waluh) keluarga. Suara tangisan pecah, karena R. Tarigan, penghuni yang mendiami Jabu Benakayu, pagi itu meninggal dunia. Rumah Si Waluh Jabu terdiri dari delapan bagian, masing-masing ditempati delapan keluarga dengan posisi dan urutan tertentu. Ruangan yang palingdihormati disebut Jabu Bena Kayu atau Jabu Raja (jabu artinya rumah red.) letaknya disebalah kanan pintu masuk rumah adat sisi timur (pintu Si Waluh Jabu ada dua satu menghadap timur dan lainnya ke arah barat).
R. Tarigan dan keluarganya merupakan kerabat raja yang dihormati, sehingga secara turun temurun pihak keluarganya menempati ruangan Jabu Bena Kayu tersebut. Sementara bagian lain dari rumah adat yang besar itu, secara berurutan di sebutJabu Sungjun Berita, Jabu Peninggel-ninggel, Jabu Singapuri Belo, Jabu Bicara Guru, Jabu Arinteneng, Jabu Simanganminem, Jabu Ujung Kayu.
Meninggal Mendadak
Meninggalnya R. Tarigan, sebagai orang yang dituakan di rumah adat itu, tentu saja mengagetkan keluarga, kerabat dan penduduk desa, Sehari sebelumnya R. Tarigan masih terlihat sehat-sehat saja. Namun ketika sang istri membangunkannya pagi itu, ayah lima anak itu sudah tak bernyawa lagi.
Kematian sepeti ini dalam bahasa Karo disebut Mate Rempet, (meninggal mendadak). Proses kematian seperti ini pertanda kurang baik menurut keyakinan penganut yang sampai saat ini masih dianut sebagian kecil suku Karo.
Tetua adat dan berbagai kerabat kemudian berkumpul di lape-lape (tenda darurat), yang didirikan dihalaman rumah Si Waluh Jabu. Musyawarah adat segera digelar untuk membahas proses penguburan tidak dilakukan hari itu juga. Namun bisa dua bahkan tiga hari kemudian. Hal ini biasanya terjadi karena menunggu keluarga terdekat, khususnya anak, yang merantau jauh dari kampung halaman.
Dulu sebelum ada formalin, sebagai pengawet jenazah seperti sekarang, untuk menjaga agar mayat tidak bau, dilakukan secara tradisional. Batang pisang ditempatkan disisi kiri dan kanan jenazah, agar jenazah tetap dingin dan awet. Jasad yang telah meninggal, biasanya dibaringkan dengan posisi kepala kearah timur dan kaki ke sebelah barat.
Untuk menolak bala, dibagian kepala mayat digantung kain putih (dagangen red.) serta tubuhnya diselimuti ulos, sementara dibagian tumit di8ganjal dengan lagan/batu ulekan.
Upacara Perpisahan
Setelah musyawarah adat atau runggu dalam bahasa karo, selesai digelar, sejumlah kerabat sibuk dengan tugas masing-masing seperti yang sudah ditetapkan dalam runggu tadi. Sebagian mempersiapkan jamuan makan untuk upacara adapt penguburan, lainnya menyebar undangan bagi kerabat atau keluarga yang tinggal di desa lain.
Menurut keyakinan Perbegu,- roh manusia yang masih hidup disebut tendi, sedangkan arwah manusia yang meninggal dunia adalah begu. Karena dipaksa meninggalkan raganya, begu mengembara kesana kemari. Arwah yang meninggal mungkin saja akan mengganggu, sehingga menurut kepercayaan Perbegu perlu dilakukan berbagai proses adat.
Sebelum jenazah dikeluarkan dari rumah duka untuk menjalani upacara penguburan dilapangan yang sudah disediakan, terlebih dahulu dilakukan ritual sirang-sirang, atau upacara perpisahan bagi orang yang meninggal dengan keluarga dan kerabat terdekatnya.
komunitas seni dan budaya mulai Sabang sampai Merauke, dari berbagai alat musik, tari, senjata tradisional untuk bentuk-bentuk adat dan budaya masyarakat
Sabtu, Desember 19, 2009
RITUAL MEMANGGIL ARWAH
Label: artikel
Diposting oleh Unknown di 12.37 0 komentar
Jumat, Desember 18, 2009
Kamis, Desember 10, 2009
RUMAH BETANG, RUMAH ADAT DAN BUDAYA DAYAK YANG HAMPIR TERSINGKIRKAN
Terinspirasi dan bersumber dari buku “Pergulatan Identitas Dayak Dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut” Penerbit Galangpress, April 2006.
Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak).
Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.
Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.
Rumah Betang
Tetapi pada masa sekarang pun banyak orang luar (bahkan orang Indonesia sendiri) beranggapan bahwa suku Dayak adalah suku yang tertutup, individual, kasar dan biadab. Sebenarnya hal ini merupakan suatu kebohongan besar yang diciptakan oleh para colonial Belanda waktu masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk memecah belah persatuan dan kesatuan terutama di antara suku Dayak sendiri yang pada saat itu menjunjung tinggi budaya rumah Betang. Dan kebohongan tersebut masih dianggap benar sampai sekarang oleh mereka yang tidak mengenal benar orang Dayak. Sebagai contoh, tulisan karya orang Belanda bernama J. Lameijn yang berjudul Matahari Terbit, dimana tulisan tersebut sangat merendahkan martabat masyarakat Dayak. Bagian tulisan itu sebagai berikut.
“ …. Setelah habis pertcakapan itu, cukuplah pengetahuan saya tentang orang Dayak. Sebelum itu saya sudah tahu, bahwa orang Dayak itu amat kasar dan biadab tabiatnya. Kalau tiada terpaksa, tiadalah saja berani berjalan sendiri ditanahnya, karena tentulah saja akan kembali tiada berkepala lagi”.
Citra buruk masyarakat Dayak di perparah lagi dengan timbulnya kerusuhan-kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan yang di ekspos besar-besaran hingga keluar negeri (terutama melalui media internet) tanpa memandang sebab sebenarnya dari kerusuhan tersebut hanya memandang berdasarkan pembantaian massal yang terjadi, seperti kerusuhan di Kalimantan Barat (Sambas) dan Kalimantan Tengah (Sampit dan Palangkaraya). Saya sendiri berada di kota Sampit saat kerusuhan pertama kali pecah tanggal 18 Februari 2001 dan 2 hari kemudian saya berada di Palangkaraya, saat itu saya masih kelas 3 SMP. Berdasarkan pandangan saya atas kerusuhan etnis di Sampit dan Palangkaraya, dimana disini saya tidak berpihak pada suku manapun tapi saya lebih melihat berdasarkan fakta yang ada di lapangan selama saya tinggal di Sampit dari saya kecil hingga saat pecahnya konflik Sampit. Kerusuhan tersebut bukanlah akibat adanya tokoh-tokoh intelektual yang ingin mengacaukan keadaan atau perasaan cemburu suku Dayak karena etnis tertentu lebih berhasil dalam mencari nafkah di Kalimantan, tetapi lebih kepada terlukanya perasaan masyarakat Dayak yang dipendam selama bertahun-tahun akibat tidak di hargainya budaya Betang yang mereka miliki oleh etnis tertentu, hingga perihnya luka tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh masyarakat Dayak dan akhirnya mengakibatkan pecahnya konflik berdarah tersebut. Seharusnya etnis tertentu tersebut lebih memahami pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bukannya bersikap arogan dan ingin menang sendiri serta tidak menghargai budaya lokal (budaya rumah Betang yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa ).
Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan. Sebut saja, misalnya di Palangkaraya terdapat sebuah rumah Betang yang dibangun pada tahun 1990-an tetapi lebih terlihat sebagai monumen yang tidak dihuni. Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang (termasuk saya sendiri). Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern.
Dan sekarang, dalam menghadapi kehidupan modern yang sangat individualis, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, materi dan penuh kemunafikan, masihkan budaya rumah Betang menjadi tatanan hidup bersama di Kalimantan ataukah budaya ini akan ikut menghilang seperti menghilangnya bangunan rumah Betang di Kalimantan. Apapun jawabannya hanya kita orang Kalimantan yang dapat menentukannya !
© andripabayo11.blogspot.com
Label: cinta budaya sendiri
Diposting oleh Unknown di 10.02 0 komentar
Jumat, November 13, 2009
ANAK INDONESIA MEMBANGUN JARINGAN
Hari ini tanggal 23 Juli 2007 Bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Hari anak tahun-tahun ini dan masa depan akan mulai berbeda dengan Hari Anak di masa lalu. Di jaman lama, anak-anak kita, begitu juga anak-anak dari negara berkembang lainnya, dilahirkan dari keluarga tradisional dengan lingkungan yang juga mempunyai budaya tradisional yang dipelihara dengan segala kaidah yang indah dan sejuk. Anak masa kini hidup dalam masa transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat industrial, masyarakat dagang dan masyarakat modern yang terbuka dengan adanya technologi komunikasi instan yang sangat canggih.
Masyarakat masa kini adalah masyarakat yang sangat terbuka dan dalam situasi yang sangat instan bisa berhubungan dengan masyarakat lain tanpa perantaraan siapapun juga. Masyarakat kita adalah masyarakat transisi yang didalam lingkungan keluarganya juga sedang terjadi gejolak yang sangat dahsyat. Ukuran keluarga yang besar dan saling bergantung satu sama lain berubah menjadi keluarga kecil. Setiap anggota keluarga tidak lagi bisa bergantung kepada keluarga lainnya.
Seorang adik bayi yang baru lahir, dimasa lalu, dengan mudah diserahkan ibu bapaknya kepada kakaknya yang lebih dewasa. Kakak yang tidak banyak pilihan itu dengan setia menjadi penjaga dan memberikan yang terbaik untuk adiknya. Kakak yang baik itu biasanya selalu mengalah dan mendahulukan kepentingan adiknya agar dia tetap dekat dengan kedua orang tuanya. Kakak yang baik itu dengan patuh memberikan bimbingan dan bahkan dengan segala upaya melakukan berbagai hal agar adiknya tidak menangis dan berpihak kepadanya agar kredibilitasnya sebagai orang yang lebih tua tidak diragukan lagi oleh orang tuanya. Penurunan kredibilitas itu akan sangat berpengaruah karena sebagai anak sangat tergantung pada dukungan orang tuanya.
Masyarakat sekitarnya juga menaruh hormat pada anak itu karena memandang kedudukan orang tuanya. Anak seorang yang mampu atau mempunyai derajat tertentu akan mendapat kehormatan seperti orang tuanya. Anak ini akan diperlakukan secara terhormat oleh masyarakat, termasuk oleh teman sebayanya, seperti orang tua mereka menghormati kedua orang tua dari anak yang bersangkutan. Proses menjadikan seorang anak seperti priyayi atau anak keluarga biasa bisa dimulai dari saat yang sangat dini, dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan masyarakatnya.
Dalam alam yang sedang berubah dewasa ini penduduk di negara berkembang, termasuk di Indonesia, mengalami proses transisi demografi pendek yang ditempuh negara-negara maju selama 150 tahun hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun. Segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat dan sekaligus keluarga Indonesia menjadi bersifat urban atau perkotaan dalam waktu sangat singkat. Orang tua dan pemerintah tidak atau belum siap memberikan pembekalan kepada keluarga dan masyarakat pada umumnya.
Perubahan itu bukan saja didorong oleh keluarga di sekitar kita di Indonesia, tetapi merupakan arus globalisasi yang sangat deras dan melanda hampir seluruh pelosok tanah air. Arus itu bukan berjalan melalui jalur yang biasa terjadi, lewat aparat pemerintah atau pendidikan di sekolah. Arus global itu masuk ke setiap keluarga tidak dengan mengucapkan assalamu’alaikum atau permisi, tanpa basa basi menyerang setiap keluarga di rumah masing-masing. Serangan global dan tiada henti itu tentu bervariasi.
Ada yang nilai dan kemasannya bagus dan cocok dengan masyarakatnya. Ada juga yang nilai dan motivasinya tidak pas tetapi kemasannya bagus. Yang pertama dan kedua ini, karena sifatnya serangan langsung, masuk ke setiap keluarga tanpa sensor kepala keluarga atau pejabat resmi yang ada. Serangan itu mendatangkan dampak yang bervariasi. Bagi keluarga yang matang, apapun wujud serangannya bisa memilah-milah dan mengambil yang terbaik. Bagi keluarga pas-pasan dan tidak paham bagaimana menyesuaikan diri akan tenggelam bersama tumpukan yang bagus dan yang tidak bagus.
Keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga terbatas, apalagi dalam suasana terhimpit, harus berjuang dengan keras diluar rumah, akan tidak mungkin menyaring dan memberi masukan tambahan agar setiap anggotanya melakukan penyesuaian dengan baik. Mereka tidak berdaya. Segala sesuatu tergantung kepada setiap anggota dan mendapat kesan seakan muncul demokrasi dalam penerimaaan sistem nilai global yang baru.
Untuk mengatasi dan menolong proses penyesuaian yang sangat kuat itu perlu dicari terobosan jitu. Salah satu terobosan untuk mengatasi kesenjangan jumlah keluarga yang makin mengecil, pada tingkat pedesaan, Yayasan Damandiri bersama berbagai lembaga lainnya sedang mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya dengan berbagai basisnya. Pos-pos ini merupakan jaraingan pemberdayaan yang berkesinambungan. Salah satunya adalah Posdaya berbasis Masjid yang prototipenya telah diresmikan oleh Menteri Agama beberapa waktu yang lalu di Pemalang. Posdaya berbasis Banjar sudah mencapai 244 Banjar telah diresmikan oleh Bupati Jembrana di Negara, Jembrana, pada hari Sabtu lalu. Posdaya berbasis keluarga telah beroperasi di desa Pucang Sewu, Pacitan.
Posdaya berbasis Masjid mendapat perhatian yang sangat luas dari berbagai negara sahabat. Untuk menampung perhatian yang luas itu minggu ini diadakan Studi Observasi atau Observation Study Tour (OST) di Jakarta dan Yogyakarta. Ada peserta dari lima kelompok negara dan utusan organisasi serta lembaga khusus yang terlibat. Program ini antara lain diikuti peserta dari Pakistan, Iran, Cina dan Indonesia serta Instansi dan lembaga organisasi lainnya. OST yang dimulai hari Minggu lalu baru berakhir pada hari Minggu kemarin. Para peserta telah bertekad akan mencoba menjajaki pembentukan lembaga pendidikan dan silaturahmi berbasis Masjid, sebagai jaringan yang tujuannya adalah pemberdayaan. Mereka berharap di negara masing-masing bisa mengembangkan jejaring yang tujuannya untuk pembangunan umat dan pengentasan kemiskinan. Semoga OST yang dibuka oleh Menko Kesra RI itu mendapat berkah dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Label: cinta budaya sendiri
Diposting oleh Unknown di 14.16 0 komentar