Pages - Menu

Minggu, Desember 20, 2009

Dayak Kayan : Mencari Lahan Ladang

Waktu mencari lahan ladang (matap tanaa') banyak persyaratan adat yang harus dipatuhi seperti adat rasi (nyaho'), (pelaki), lahan terlarang (tanaa' jakah). Persyaratan yang tidak berkaitan dengan adat yaiut lahan yang dipilih harus subur dan kayunya sudah besar-besar. Lahan yang dipilih adalah yang betul cocok untuk berladang dengan memperhitungkan sistem rotasi dalam waktu teratur berkisar antara 4-6 tahun.


Sistem rotasi ini berlangsung terus menerus disebut juga dengan masa bera (yang memungkinkan hutan justru manjadi subur berkelanjutan). Jadi melalui masa bera ini lahan yang sudah digarap mendapat kesempatan untuk kembali ke kondisinya semual. Sungguh tidak benar jika hutan rusak akibat orang-orang Dayak. Oleh sebab itu, salah seorang tokoh menegaskan bahwa peladang berpindah tidak bisa dikambinghitamkan sebagai penyebab kerusakan hutan atau lingkungan hidup.

Dalam mencari lahan yang akan dibuat ladang, bermacam-macam rasi atau pertanda sebagai petunjuk. Ada rasi baik dan ada pula rasi tidak baik. Binatang yang menjadi rasi ini seperti; burung, ular, kijang, monyet. Bintang yang menjadi rasi adalah bintang yang khusus. Oleh karena itu, binatang-binatang ini tidak pernah dibunuh, melainkan mereka dibiarkan hidup dengan leluasa di alam bebas.

Lahan terlarang (tanaa' jakah) adalah lahan yang tidak boleh digarap, baik untuk ladang maupun untuk keperluan lainnya. Disebut lahan terlarang karena pada lahan itu telah terjadi sesuatu hal tertentu seperti :

1. Dalam lahan itu pernah ada orang meninggal tertimpa kayu atau kena parang, kapak, beliung pada saat bekerja.
2. Dalam lahan itu ada bekas kampung yang melebur menjadi batu (pulu).
3. Pada lahan itu pernah ditanami batu sebagai pertanda sumpah karena ada sengketa atas lahan tersebut.

Lahan-lahan demikian akan menjadi hutan abadi karena tidak akan ada yang berani menggarapnya. Adat Dayak Kayan yang menganggap adanya lahan terlarang (tanaa' jakah) secara implisit melalui adat ini akan menunjang adanya konservasi alam atau area tertentu menjadi kawasan yang terlindungi.

Sistem Perladangan Suku Dayak

sistim peladangan suku dayakSitem Perladangan Suku Dayak secara garis besar menganut sistem perladangan (berpindah) sebagai budaya yang merata di kalangan suku Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan. Walaupun budaya ini tidak dapat dikatakan khas Suku Dayak, namun ada segi-segi khas dapat dikategorikan sebagai kebudayaan Suku Dayak. Hal ini nampak dalam ketentuan-ketentuan adat dalam berladang di kalangan suku Dayak di Kalimantan :

1. Permintaan Ijin dari kepala suku / kepala adat;
2. Pencarian hutan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan tertentu, baik dari segi pengetahuan tentang alam, maupun dari segi kepercayaan apakah hutan yang akan digarap itu akan mendatangkan kebahagiaan atau kecelakaan;
3. Upacara pembukaan hutan dan penggarapan selanjutnya seperti tebang, bakar dan pembersihan;
4. Penanaman padi dengan sistem "manugal" yaitu menggunakan tongkat kayu untuk membuat lubang di tanah yang kemudian diisi dengan benih padi;
5. Pekerjaan-pekerjaan berat dalam berladang seperti pembukaan awal dan penugalan biasanya dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh penduduk; pekerjaan ini dilakukan secara bergiliran di tiap-tiap ladang. Dengan demikian kebutuhan akan tenaga kerja dapat diatasi bersama;
6. Kerja menuai dalam sistem perladangan Suku Dayak pun dilakukan secara gotong royong;
7. Peristiwa menugal dan menuai dianggap sebagai peristiwa kegembiraan, dan sebab itu hampir selalu dibarengi dengan nyanyian dan tari-tarian.

Walaupun ada di antara suku-suku Dayak ini yang telah menggunakan sistem persawahan dengan irigasi dan pemakaian bajak yang ditarik kerbau, seperti di kalangan suku-suku Lun Daye di Karayam - Kaltim dan suku Kalabit, namun pada umumnya semua Suku Dayak terbiasa dengan sistem perladangan.

Sistem perladangan di kalangan masyarakat suku Dayak ini sudah memperhitunkan sirkulasi rotasi tanaman, dengan menanam kembali lahan bekas berladang dengan tanaman-tanaman keras seperti kopi, karet dan pohon buah-buahan. Juga dengan membiarkan bekas lahan itu menjadi hutan belukar kembali sehingga memperoleh kembali kesuburan dalam kadar yang cukup, kemudian setelah masa daur 4-6 tahun baru lahan tersebut digarap kembali. Oleh sebab itu, perladangan (berpindah) tidak bisa dikambinghitamkan sebagai penyebab kerusakan hutan atau lingkungan hidup.

Wisata Alam di Kalimantan Tengah

wisata alam kalimantan tengahProvinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 153.564 kilometer persegi, memiliki potensi sumber daya alam untuk sektor pariwisata sangat melimpah ruah. Sebab, dari seluruh wilayah tersebut terdapat 126.200 kilometer persegi atau sekitar 82,1 persen merupakan rawa seluas 18.115 kilometer persegi atau 11,8 persen, untuk sungai, danau dan genangan seluas 4.563 kilometer persegi atau 3 persen dan tanah lainnya seluas 4.868 kilometer persegi atau 3.1 persen.

Dengan begitu luasnya hutan belantara, maka potensi wisata alam di Kalimantan Tengah sangat besar sekali. Apalagi Provinsi Kalteng yang terdiri dari 13 Kabupaten dan satu kota ini dilengkapi dengan keberadaan 11 sungai besar yang panjangnya antara 175 kilometer hingga mencapai 900 kilometer. Hampir semua kabupaten memiliki potensi wisata alam yang terdiri hutan, rawa, sungai, pantai dan sebagainya.

Objek Wisata di Kalimantan Tengah - KaltengDi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terdapat Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), kemudian daerah dengan Motto "Marunting Batu Aji" ini juga memiliki pantai yang cukup indah yang panjangnya lebih dari 200 kilometer. Kemudian Taman Nasional Sabangau di Kabupaten Pulang Pisau.

Di Kota Palangka Raya terdapat obyek wisata alam susur sungai Kahayan, Bukit Tangkiling, Danau Tahai dan Arboretum. Di Kabupaten Gunung Mas terdapat objek wisata alam air tejun Batu Mahasur di Kuala Kurun, Batu Suli di tepian sungai Kahayan. Di Kabupaten Kotawaringin Timur terdapat Pantai Ujung Pandaran, Riam Sandung, Pulau Lepeh serta susur Sungai Mentaya.

Di Kabupaten Murung Raya terdapat objek wisata Gunung Kolompai, Gunung Konut, Gunung Danau Usung, Gunung Bondang, serta Gunung Tunjuk. Selanjutnya juga ada arung jeram, Air Tejun Sampulan, Air Terjun Bumbun.

Di Kabupaten Barito Selatan terdapat obyek wisata alam Liang Ayah yang tedapat di dalam sebuah gua, di Barito Timur terdapat Liang Saragih juga dalam sebuah Goa. Sedangkan wisata alam di Barito Utara terdapat sebuah cagar alam berupa hutan lindung, di Kabupaten Lamandau banyak terdapat wisata alam berupa batu-batu riam di tengah sungai sehingga daerah ini sangat menarik untuk dijadikan tempat kegiatan Arung Jeram terutama di Riam Keladu.

Berbagai objek wisata alam di Kalteng ini, potensinya memang sangat banyak dan sangat menarik, tidak jarang objek wisata ini sangat menarik minat wisatawan mancanegara (turis asing). Meski demikian, berbagai potensi wisata alam tersebut belum semuanya tergarap secara maksimal karena keterbatasan dana dari Pemerintah setempat.

Merasa Asing dengan Budaya Sendiri

budaya tradisional lama dayakDahulu kala manusia tinggal di goa-goa dan membuat tempat tinggal di puncak-puncak pepohonan sampai manusia dapat membangun rumah gedung bahkan bertingkat-tingkat. Bentuk rumah adat yang dibuat nenek moyang bangsa Indonesia beraneka ragam menunjukkan kekayaan budaya dan identitas bangsa Indonesia.

Merasa Asing dengan Budaya SendiriAkibat dari arus globalisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk pengetahuan tentang rumah dan bangunannya, maka kini bentuk khas bangunan rumah Betang masih dapat kita jumpai di sejumlah daerah provinsi Kalimantan Tengah yang tersebar di berbagai Kabupaten dan Kota.

Saat ini kebanyakan masyarakat mulai merasa asing dengan budaya sendiri. Generasi muda saat ini cenderung mulai bahkan malah justru tidak mengerti budaya, adat dan tata cara sukunya sendiri. Perilaku masyarakat pun telah berubah dari kehidupan yang dahulunya bersifat sosial kemasyarakatan menjadi lebih individualistis.

Konon kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan transformasi kebudayaan asing telah mengubah wajah Kalteng sekarang. Bangunan gedung bertingkat dan permanen banyak menghiasi wajah Kalimantan Tengah. Memang perubahan tidak dapat dihindari oleh siapapun dan di mana pun, tapi tak selamanya perubahan membawa kebaikan, bahkan perubahan itu sendiri masih dapat berubah bergantung pada situasi, kondisi dan budaya masyarakatnya.