Pages - Menu

Sabtu, Desember 19, 2009

RITUAL MEMANGGIL ARWAH

Rumah Si Waluh Jabu

Upacara memanggil arwah, merupakan suatu ritual yang terdapat di suku Batak Karo, Sumatera Utara yang menganut agama Perbegu (animisme). Prosesi yang berdaya magis ini belakangan ini jarang dilakukan, di samping karena biaya tinggi, juga akibat pengaruh agama besar yakni Islam maupun Kristen yang melarang umat melakukan prosesi ini. Ritual memanggil arwah atau Perumah Begu yang cukup dan secara bersambung selama sepekan dilaporkan wartawan Pos Kota Masana Ginting.

Ratap tangis memilukan sayup-sayup terdengar dari satu rumah Si Waluh jabu, di desa terpencil yang terletak di sebelah timur Kecamatan Munte, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Rumah Si Waluh Jabu merupakan rumah adat Karo yang kini nyaris punah.

Di sebut rumah Si Waluh Jabu, Karena rumah adat beratap ijuk dengan hiasan kepala kerbau di ujung atap, sama sekali tanpa menggunakan paku, dihuni delapan (waluh) keluarga. Suara tangisan pecah, karena R. Tarigan, penghuni yang mendiami Jabu Benakayu, pagi itu meninggal dunia. Rumah Si Waluh Jabu terdiri dari delapan bagian, masing-masing ditempati delapan keluarga dengan posisi dan urutan tertentu. Ruangan yang palingdihormati disebut Jabu Bena Kayu atau Jabu Raja (jabu artinya rumah red.) letaknya disebalah kanan pintu masuk rumah adat sisi timur (pintu Si Waluh Jabu ada dua satu menghadap timur dan lainnya ke arah barat).

R. Tarigan dan keluarganya merupakan kerabat raja yang dihormati, sehingga secara turun temurun pihak keluarganya menempati ruangan Jabu Bena Kayu tersebut. Sementara bagian lain dari rumah adat yang besar itu, secara berurutan di sebutJabu Sungjun Berita, Jabu Peninggel-ninggel, Jabu Singapuri Belo, Jabu Bicara Guru, Jabu Arinteneng, Jabu Simanganminem, Jabu Ujung Kayu.

Meninggal Mendadak

Meninggalnya R. Tarigan, sebagai orang yang dituakan di rumah adat itu, tentu saja mengagetkan keluarga, kerabat dan penduduk desa, Sehari sebelumnya R. Tarigan masih terlihat sehat-sehat saja. Namun ketika sang istri membangunkannya pagi itu, ayah lima anak itu sudah tak bernyawa lagi.

Kematian sepeti ini dalam bahasa Karo disebut Mate Rempet, (meninggal mendadak). Proses kematian seperti ini pertanda kurang baik menurut keyakinan penganut yang sampai saat ini masih dianut sebagian kecil suku Karo.

Tetua adat dan berbagai kerabat kemudian berkumpul di lape-lape (tenda darurat), yang didirikan dihalaman rumah Si Waluh Jabu. Musyawarah adat segera digelar untuk membahas proses penguburan tidak dilakukan hari itu juga. Namun bisa dua bahkan tiga hari kemudian. Hal ini biasanya terjadi karena menunggu keluarga terdekat, khususnya anak, yang merantau jauh dari kampung halaman.

Dulu sebelum ada formalin, sebagai pengawet jenazah seperti sekarang, untuk menjaga agar mayat tidak bau, dilakukan secara tradisional. Batang pisang ditempatkan disisi kiri dan kanan jenazah, agar jenazah tetap dingin dan awet. Jasad yang telah meninggal, biasanya dibaringkan dengan posisi kepala kearah timur dan kaki ke sebelah barat.

Untuk menolak bala, dibagian kepala mayat digantung kain putih (dagangen red.) serta tubuhnya diselimuti ulos, sementara dibagian tumit di8ganjal dengan lagan/batu ulekan.

Upacara Perpisahan

Setelah musyawarah adat atau runggu dalam bahasa karo, selesai digelar, sejumlah kerabat sibuk dengan tugas masing-masing seperti yang sudah ditetapkan dalam runggu tadi. Sebagian mempersiapkan jamuan makan untuk upacara adapt penguburan, lainnya menyebar undangan bagi kerabat atau keluarga yang tinggal di desa lain.

Menurut keyakinan Perbegu,- roh manusia yang masih hidup disebut tendi, sedangkan arwah manusia yang meninggal dunia adalah begu. Karena dipaksa meninggalkan raganya, begu mengembara kesana kemari. Arwah yang meninggal mungkin saja akan mengganggu, sehingga menurut kepercayaan Perbegu perlu dilakukan berbagai proses adat.

Sebelum jenazah dikeluarkan dari rumah duka untuk menjalani upacara penguburan dilapangan yang sudah disediakan, terlebih dahulu dilakukan ritual sirang-sirang, atau upacara perpisahan bagi orang yang meninggal dengan keluarga dan kerabat terdekatnya.

0 komentar: